Jumat, 21 Desember 2018

Harapan

Aku ingin tahu, siapa di antara kalian yang tidak pernah menaruh harap? Kuyakin sebagian besar orang pasti mempunyai harapan. Entah itu kepada dambaan hati, kepada hidup, kepada takdir, apa pun itu. Aku sendiri juga mempunyai harapan, banyak sekali. Apalagi di penghujung tahun seperti ini. Biasanya, banyak orang yang berharap bahwa di tahun yang akan datang, mereka akan mencapai targetnya. Namun, jika kita hanya bergantung pada sebuah harap tetapi tidak melaksanakannya dengan tindakan, ya sama saja bohong. Sampai kapan pun, harapan itu tak akan pernah terwujud.

Jika kau ditanya, "apa harapan terbesar dalam hidupmu?" Bagaimana kau menjawabnya? Jujur, aku sendiri juga bingung. Banyak sekali harapan yang tidak bisa kuhitung satu-persatu. Bahkan terkadang harapan itu membuatku sakit ketika mengingatnya. Mengapa? Terlalu banyak yang kunanti sehingga hanya menjadi angan-angan dalam benak. Aku memang suka sekali berkhayal tentang yang tak pasti. Entah itu menjadi princess yang cantik jelita, peri yang bisa terbang, lalu bisa duduk di atas permadani bersama Aladdin. Harapanku memang aneh. Namun, aku sadar, itu hanyalah harapan dan khayalan belaka. Sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah terwujud.

Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan itu sendiri. Harapanku tidak muluk-muluk. Aku bisa lulus kuliah di tahun depan, aku bisa mempunyai sebuah buku karyaku sendiri, aku bisa mengurangi rasa gelisah yang timbul dari energi negatif dalam diriku dan semacamnya. Oh iya, mengenai dirinya? Sesungguhnya, aku tidak bisa menaruh harap. Aku tidak mau menaruh harap berlebih pada seseorang yang belum tentu nantinya akan menjadi milikku. Biar saja rasa ini berkelana sendirian. Toh, jika sudah waktunya, ia akan menetap di hatiku tanpa kupinta.

Jadi, sudahkah kamu berharap? Apa harapanmu? Bolehkah aku mengetahuinya?

#30DWC #30DWCJilid16 #Day13

Dikara

"Tolong ajari aku bagaimana cara menulis sebuah cerita ber-happy ending. Aku terlalu sedih sehingga lupa bagaimana caranya bahagia," pintanya disela pembicaraan kami yang tak terlalu serius.

Aku berpikir sejenak, mencari ide untuk menjawab. Padahal aku sendiri juga tidak mengetahuinya, "hmm, coba pikirkan sesuatu yang membuatmu bahagia. Pejamkan mata, tarik napas panjang. Pelan-pelan saja, tak usah terburu-buru."

"Tak bisa, aku tak bisa!" bantahnya, "aku sedang tidak ada ide. Perasaanku sedang kalut. Bagaimana kamu bisa menulis tentang kebahagiaan dan keindahan dikala dirimu sedang kalut?" ia mengacak rambutnya yang terurai panjang. Sesekali matanya memejam menahan emosi, "apa mungkin, aku sudah tak lagi bisa menuliskan sesuatu tentang keindahan? kebahagiaan? aku sadar, aku ini tak enak untuk dipandang. Tak seperti gadis lain yang elok. Kehidupanku sedikit kacau. Maka dari itu, aku hanya bisa menuliskan hal-hal yang berbau kesedihan."

"Hey, jangan bicara seperti itu. Bagiku, kamu adalah anugerah terindah yang pernah kupunya. Kamu adalah dikara yang telah diciptakan oleh semesta. Pendar senyummu sangat indah hingga netraku masih saja memandangimu dalam diam, tak mampu mengalihkan. Netramu telah menghipnotisku sejak kali pertama bertemu. Kuakui, kamu adalah satu-satunya gadis yang pertama kali duduk di sampingku, percayalah. Kamu indah, seperti namamu."

"Aku tidak indah."

"Tapi, Indah adalah namamu, 'kan?"

"Itu hanyalah nama. Bukan keindahan yang sebenarnya."

"Coba senyum dan menengadah ke langit yang penuh dengan taburan bintang. Bagaimana? indah, 'kan? bintangnya bergerombol membentuk ukiran namamu. Diam-diam, aku selalu berdoa. Menyebut namamu dalam keheningan, agar kamu tak sedih lagi. Senyum, ya? Agar aku bisa melihat keindahan yang sederhana hanya dari senyummu." Ia menatapku sesaat, lalu tersenyum. Membuat kupu-kupu di perutku kembali menari-nari beterbangan.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day12

Kamis, 20 Desember 2018

Menghilang

Teruntuk Tuan yang mungkin sedang bersembunyi di balik semesta.

Bagaimana keadaanmu? Kuharap, semesta selalu menjagamu dengan baik meskipun aku sendiri tidak tahu mengenai keberadaanmu sekarang. Bahkan, aku tidak tahu mengapa secepat ini kau pergi dan memilih berkelana ke lain hati setelah kau berhasil membuatku jatuh hati terlalu dalam. Aku berani bertaruh, kau pasti tidak peduli dengan keadaan hatiku saat itu ketika kau memutuskan untuk pergi. Baiklah, kali ini aku hanya ingin menyampaikan segenap perasaan hati melalui aksara. Aku tak memaksamu untuk membacanya, karena percuma. Kamu tak akan memahami isi hati seorang Puan yang sedang dirundung pilu.

Tuan, apa kau tidak ingat dengan ucapan manismu ketika kita sedang bersua melalui telepon genggam? Katamu, kau sangat mencintaiku. Katamu, kau sangat membutuhkanku di hidupmu. Tidak ada gadis lain selain diriku. Kau membuatku terbuai ke langit ke tujuh ketika kau mengucapkannya. Aku bahkan sampai lupa diri sebab ucapanmu yang telah membawaku terbang tinggi ke atas awan. Namun, sekarang aku jatuh karena semua itu terbuang sia-sia. Aku tergopoh-gopoh untuk bangkit, tetapi sulit rasanya. Tidak ada yang bisa menolongku selain dirimu. Apa aku salah jika terlalu berharap? Apa aku salah jika menginginkan sebuah kepastian dan kejujuran?
Kau meninggalkanku tanpa sebab dan tanpa bahasa yang bisa kumengerti.

Kau tahu? Dirimu laiknya pencuri yang mengambil hati, lalu dengan seenaknya melarikan diri tanpa ingin diketahui. Aku baru sadar, ternyata kau tak ada bedanya dengan para pencuri itu.

Tuan, aku tak pernah sekalipun jatuh cinta kepada seseorang terlalu dalam seperti ini. Kaulah yang berhasil membuatku seperti orang yang gila akan cinta. Namun, aku ingin meminta beberapa hal. Anggap saja kita tak pernah bertemu. Anggap saja kita tak pernah bersitatap. Anggap saja aku tak pernah menaruh debaran yang mengguncang hati ketika kau memelukku kala gundah melanda. Anggap saja.. kisah kita tak pernah ada. Kisah kita sudah habis ditelan bumi hidup-hidup.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day11

Rabu, 19 Desember 2018

Icarus

I am vibrant and beautiful and that makes me dangerous.

You may call me wicked, but I am just warning. Touch me and you’ll burn, listen to my song and your mind will spin for the rest of time. No portrait in The Louvre is as radiant as I am, no chocolate in Amsterdam can make you melt like I can.

You are brave and courageous and that makes you stupid.

You look at a woman like me and your pride gives you the illusion of strength, but strength doesn't amount to the power I hold. The lightning of Zeus could never electrify you so boldly. One touch and you’re mine, I can set your atoms into chaos and your skin into a frenzy.

No wisdom of Athena can save you from me. Because one smile and all logic flows out of you like a river. I can turn the smartest men’s brains to stone and you are no different.

So you can chase after me and I will enjoy it. I will savor you crawling on the ground to me begging for my love and perhaps I will give it to you right at the end. Right before I shatter your pride like glass falling to the earth.

Because I am the sun. And Icarus, you are flying too close.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day10

Selasa, 18 Desember 2018

Masa Silam

Lanjutan cerita berjudul Kota Pelarian yang sudah saya post sebelum ini.

                                       ****

Perempuan itu menyesap green tea latte hangatnya yang masih mengepulkan asap. Ia berada di sebuah kafe di tengah kota dengan kendaraan yang ramai berlalu-lalang. Dengan syal yang dililitkan di lehernya dan juga jaket yang dikenakan pada tubuhnya, menjadikan dirinya hangat dari suasana dingin yang sedang melanda kota Delft. Lagi-lagi ia melamun. Memorinya kembali berkelana pada masa silam sebelum ia memutuskan untuk pergi jauh.

Suara hentakkan yang dibuat oleh wanita paruh baya itu membuatnya geram. Ia merupakan tante Nadeen yang kebetulan menetap di kediamannya. Namun kerap kali gadis itu sering menjadi objek kekesalannya dikala wanita paruh baya itu sedang mengamuk. Pecahan piring berserakan di mana-mana akibat emosi wanita itu yang tidak terkontrol. Nadeen yang hanya bisa diam menggerutu dalam hati akhirnya menangis tanpa ada yang mengetahuinya. Ia menyembunyikan rapat-rapat wajahnya dengan rambutnya yang panjang.

"Nadeen! kamu tuh ya, bisanya cuma diam! kerjaannya pulang malem gak karuan! ngapain aja? mabok? hah?! gak pernah inget sama orang rumah. Orang tuamu sibuk, bahkan mungkin sudah lupa dengan adanya kamu. Lalu, sekarang kamu ikut-ikutan sok sibuk?!" wanita itu terus memarahinya, sesekali memukulnya dengan codet. Sesungguhnya, wanita itu tidak pernah mengetahui apa-apa tentang Nadeen. Yang ia tahu, Nadeen pulang malam dikarenakan asyik dengan dunia malam, tapi ia salah besar. Nadeen memang mempunyai jabatan yang cukup memegang andil perusahaan di usianya yang masih berusia 22 tahun. Ia dipercaya bosnya untuk menjadi tangan kanannya. Dengan tugasnya yang menggunung, ia menjadi sering pulang larut lantaran lembur. Sesungguhnya gadis itu anak baik-baik dan juga pintar. Tak heran ia dipercaya menjadi tangan kanan bosnya di usianya yang masih terbilang belia.

"Sudahlah, tante gak tahu apa-apa! lebih baik diam saja!" ucap gadis itu tak kalah sewotnya.

"Nadeen! diam kamu! pergi kamu dari sini! aku yakin orang tuamu juga tidak menginginkanmu lagi! makanya mereka pergi dan tidak pernah menelponmu, kan? hahaha, aku ini tahu betul siapa mereka. Kamu sudah tak punya hak untuk berada di sini!"

"Apa-apaan?! ini rumahku! kau tidak ada hak untuk mengusirku. Seharusnya kamu yang angkat kaki dari rumah ini, bukan aku!"

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi mungil tersebut. Nadeen berlari ke kamar dan buru-buru mengepakkan barang-barangnya dengan tangis yang berceceran di wajahnya. Hatinya sangat hancur dan terluka mendengar omongan tantenya—orang kedua yang dipercayainya setelah orang tuanya justru menikam hatinya lebih dalam. Sejauh ini, ia belum mendengar kabar mengenai ayah ibunya. Mungkin benar apa kata wanita paruh baya itu, orang tuanya juga tidak peduli tentang dirinya. Maka dari itu, ia melarikan diri tanpa berpikir apa pun dan segera melesat menuju bandara. Kota Delft yang berada di Netherland menjadi pilihan gadis itu tanpa perlu berpikir lama. Ia sudah tak peduli dengan segalanya. Pikirannya sudah kacau-balau. Ia pergi meninggalkan Jakarta dengan kondisi hati yang hancur.

Itulah yang menjadi alasan kuat mengapa ia memutuskan untuk pergi jauh. Hatinya belum cukup kuat untuk kembali pada kenyataan. Ia khawatir akan gila jika kembali ke sana dalam kurun waktu dekat. Ia hanya ingin pergi—pergi menjauh, melupakan segalanya yang telah membunuh jiwa positifnya yang sekarang digantikan oleh jiwa negatif dari dirinya. Ia tak membiarkan seorangpun mengetahui  keberadaannya sekarang, termasuk bosnya. Ia merelakan jabatannya hancur dan memilih ke luar negeri untuk menenangkan diri sejenak.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day9

Senin, 17 Desember 2018

Pengagum Rahasia

Untukmu, yang selama ini hanya bisa kukagumi dalam diam; apa kabar?

Ah, aneh sekali aku ini. Kenapa pula aku harus repot bertanya? Toh sejujurnya aku sudah tahu kabar beritamu. Setiap pagi setelah ibadah dan bebersih badan, melihat aktivitasmu di media sosial sudah menjadi kebiasaan yang tak pernah kulewatkan. Kalau saja kau menemukan tulisan ini dan tahu bahwa kata-kata yang sedang kau baca adalah tentangmu, kujamin kau hanya akan terkekeh pelan mengetahui betapa picisannya aku.

Tapi untuk hari ini, aku ingin kau tahu sesuatu. Aku tak peduli jika kau bilang aku pecundang. Kau juga boleh menganggapku orang yang tak punya keberanian. Saat kalimat pengakuan hanya bisa kuucapkan dengan terbata, izinkan tulisan ini jadi perantaranya.

Apa kau masih ingat kala itu? Pertemuan singkat di sore hari. Di mana aku sedang menunggu angkutan umum datang sembari menunggu hujan reda. Lalu kau datang sekadar menyapa, kemudian melampirkan jaketmu di bahuku agar aku tak kedinginan katamu. Setelah itu, kau mencoba melontarkan guyonan yang membuatku terkekeh. Tentu saja kita tidak berdua. Ada teman-teman di sekitaran. Anehnya, meski hanya sekilas, perjumpaan denganmu tak bisa begitu saja kulupakan.

Sampai hari ini aku masih ingat suara tawamu yang renyah. Bagaimana ujung matamu berkerut ketika tersenyum lebar. Bagaimana bola matamu membesar dikala menatapku. Kau yang sering merapikan rambut saat sedang gugup, padahal kutahu rambutmu tidak berantakan. Juga bibirmu yang otomatis kau gigit saat tak bisa menjawab berbagai celotehan yang kami lontarkan. Aku merasa kau orang yang menyenangkan. Aku ingin mengenalmu lebih dalam.

Pertemuan kita berikutnya pun tak kalah menarik. Kau dan aku bertemu di acara makan bersama, berbagi meja dan mengambil lauk dari satu piring yang sama. Di tengah kelakar teman-teman yang memekakakkan telinga, senyuman ramah itu kembali kutemukan. Melihat sunggingan bibirmu saja sudah membuatku meremang. Ah, atau hanya aku yang terlalu percaya diri merasa bahwa senyuman itu untukku?

Mulai saat itu, aku ingin menciptakan momen agar kita bisa kembali bersama. Memendam rasa seperti ini kadang membuatku merasa gila. Mengagumimu sekian lama, tanpa sadar membentukku jadi pengamat tingkat dewa.

Buatku, ujian terberat adalah saat kita harus duduk berhadapan—mau tak mau harus saling berpandangan. Aku khawatir kau bisa menangkap binar lain dari mataku. Jika kau pandangi dengan dalam sekian lama, bisa-bisa rasa yang selama ini kusimpan erat tumpah—menguak ke udara. Aroma cinta yang telah kulipat rapi sekian lama tak bisa kujamin tak sampai ke hidungmu yang hanya sejengkal dekatnya. Meski tanpa harus saling memandang mata, ketahuilah bahwa kau dan hal-hal kecil tentangmu tak pernah tersingkir dari kepala

Menyukaimu sekian lama memang membuatku jadi orang yang pintar membaca pertanda. Mataku terbiasa menyapu lobby kampus mencari dirimu yang biasa duduk rapi sembari menggendong tas. Jika dirimu tak ada, tandanya kau sedang sibuk dengan kegiatan sampinganmu yang memang bejibun jumlahnya. Atau, kau hanya sedang malas dan ingin merebahkan badan saja sepanjang hari—membayar jam tidur yang sudah tergadai sepekan lalu.

Kau barangkali tak menyadari betapa aku memperhatikanmu. Kau memang tak perlu tahu. Cukup kupastikan hidupmu berjalan mulus dan tak ada kekurangan. Hanya memandangmu dari jauh pun, aku tak pernah keberatan.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day8

Minggu, 16 Desember 2018

Aku Benci Desember


Aku benci Desember. Ia adalah satu-satunya bulan yang ditunggu oleh banyak orang hanya untuk menyambut pergantian tahun. Aku mengerti, Desember diciptakan untuk memisahkan, kemudian ia juga digunakan untuk menyambut hal baru yang akan datang di tahun berikutnya. Namun, aku belum siap untuk melepaskan semua yang ada di tahun ini. Aku masih ingin seperti ini, aku tidak mau menua. Salahkah aku bila berpikir seperti ini? Apa aku terlalu egois sebab tidak ingin berpisah dengan memori yang lalu? Lagipula, di tahun yang akan datang, aku tetaplah aku. Aku tidak akan berubah. Lalu, apa yang harus disambut? Menunggu hadirnya diriku yang baru?

Aku benci Desember. Seharusnya aku berbahagia, namun nyatanya kesenduan lebih senang menghampiri dan bermain-main di benakku dibanding kebahagiaan. Layaknya teman semasa kecil yang selalu memanggil namaku untuk bercengkrama. Sepertinya, aku sudah lumayan akrab dengan sebuah hal yang bernama kecewa, sengkarut, sendu, sendirian, mereka adalah sahabat karibku. Tidak ada yang lain. Aku tidak seperti kamu yang hidupnya banyak rasa dan varian warna. Hidupku sudah penuh oleh awan kelabu. Hanya hujan yang selalu bersedia menutupi tangisanku kala gundah menyerbu.

Sementara, masih ada aku di sini yang tak ingin terburu-buru berganti tahun. Untuk apa? Toh, bagiku tidak ada bedanya. Malam pergantian tahunku tidak ada yang spesial beberapa tahun silam. Mungkin mereka menganggap Desember adalah bulan yang paling membahagiakan selain bisa berlibur sembari merayakan tahun baru, namun bagiku itu tidak.

Aku sendirian. Aku selalu sendirian. Bahkan di hari kelahiranku tepat di bulan penutupan tahun, aku sendirian. Tidak ada satu pun yang mengingatnya, termasuk keluarga. Mereka asyik sendiri dengan hidupnya. Sedangkan hariku hanya ditemani sebatang lilin yang menerangi hariku yang kelam. Tenang saja, aku sudah biasa seperti ini dengan cara dilupakan. Aku sudah biasa dihiraukan. Kamu tak perlu mengkhawatirkanku, juga tak perlu merasa bersalah. Sebab, sesuatu yang sudah biasa terjadi, akan berjalan biasa saja—tentunya dengan hati yang sudah berdarah. Tetapi, jangan salahkan aku seandainya aku mati rasa. Karena sebilah belati telah lebih dulu menikam hatinya saat rasa itu sedang tumbuh bermekaran. 

#30DWC #30DWCJilid16 #Day7

Sabtu, 15 Desember 2018

Diam yang Menyiksa

Tengoklah aku,
apa yang ingin kau bicarakan? Bicaralah, akan kudengarkan selama aku masih mampu tuk mendengar keluh-kesahmu.

Tengoklah aku,
aku ingin kau bercerita tentang apa pun yang kau suka. Jangan pernah berhenti berbicara, karena suaramu adalah nyanyian indah yang pernah kudengar selama hidup.

Tengoklah aku,
jika kau takut lantaran tak ada yang mempercayaimu. Percayalah, aku selalu berada di sini, kapanpun kau membutuhkan telinga untuk mendengarkan curahan hati. Walaupun yang bisa kulakukan hanya sebatas mendengarkanmu, namun aku sangat menghargai dan menikmati momen itu.

Tengoklah aku,
sekali lagi.
Apa pun keadaannya,
aku masih membutuhkanmu untuk bercerita tentang kehidupan yang fana ini.

Mungkin, kau bosan dengan diriku yang hanya bisa mendengarkan tapi tak bisa memberi pencerahan pada keluh-kesahmu.

Mungkin, kau bosan dengan diriku yang hanya bisa mengutarakan perasaan lewat tulisan tanpa berani berbicara langsung. Kau pikir, aku mau terlahir seperti ini—sebagai seorang tunawicara?

Kau tahu, diamku ini sangat menyiksa. Aku terlanjur dibuat patah oleh bibir kelu yang tak bisa mengeluarkan suara laiknya orang lain, seperti dirimu, contohnya. Teman bicaraku tak lain hanyalah secarik kertas dan juga pulpen. Mereka setia menemaniku di kala aku ingin mengeluarkan pendapat. Bila aku bisa berbicara, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku beruntung pernah memilikimu sebagai orang yang menerimaku seutuhnya. Sebelum akhirnya kau memutuskan untuk menyumbangan pita suaramu untukku, lalu kau pergi jauh menembus awan dan tak kembali selamanya semenjak kau divonis mengidap penyakit ganas. Namun semuanya sudah terlambat, kau lebih dulu meninggalkanku tanpa alasan sebelum aku mengemukakan segalanya atas permintaan terima kasihku.

Sekali lagi, akankah kau masih mau menengok ke arahku seperti dulu meskipun kau sudah berada di atas sana? Aku merindukanmu—andai aku bisa berbicara.


#30DWC #30DWCJilid16 #Day6

Jumat, 14 Desember 2018

Harapan


"Akankah kita bertemu lagi di suatu hari nanti?" tanya Chihiro padaku. Ia menggenggam jemariku sangat erat seperti tak mau kehilangan. Aku hanya tersenyum, menatapnya penuh arti.

"Ya, tentu kita akan bertemu lagi suatu hari nanti." Jawabku padanya.

"Janji?"

"Ya, aku janji. Sekarang, berbaliklah dan pergi. Jangan melihat ke belakang. Tataplah lurus ke depan. Kau hanya perlu fokus pada apa yang kau jalani." Perlahan aku melepaskan genggaman tangannya dan membiarkannya pergi, entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.

Aku masih di sini, berbaring di tengah lapangan rumput yang riuh bergoyang karena ditiup angin. Menunggu seseorang yang dulu pernah berjanji kepadaku bahwa kita akan bertemu lagi. Namun nyatanya aku belum menemukannya. Entah aku yang tak mau berusaha mencarinya, atau ia sudah lupa akan diriku yang pernah menolongnya. Aku masih di sini, di bawah sinar mentari hanya berangan-angan bahwa aku akan menemukannya. Lucu sekali, seorang pria yang hanya bisa diam tanpa berusaha untuk mencari gadisnya, lalu ia hanya berdiam diri berbaring di tengah lapang. Bodoh, mana bisa bertemu kalau begini caranya! Biarkan saja aku begini, toh yang kubisa hanyalah berandai-andai mengenangnya setelah belasan tahun tak bertemu.


(Inspired from Spirited Away movie)

#30DWC #30DWCJilid16 #Day5

Kamis, 13 Desember 2018

Self Love


Untuk seseorang yang sedang tenggelam dalam kepedihan, aku tahu kau terluka. Menangislah semampumu, atau bahkan sampai kantung matamu membesar lantaran menangis semalaman. Tak apa, menangislah jika itu satu-satunya cara untuk melampiaskan segalanya di kala aksara tak mampu tuk mengutarakan sepatah kata.

Kau tahu, dirimu bak mawar layu yang tetap indah meskipun sedang dalam keadaan paling rapuh. Ia tetap memancarkan pesona kecantikannya walaupun aku tahu kau sedang tak bisa bangkit.

Dan kau tahu, aku jatuh cinta pada dirimu—diriku. Kau adalah gadis terkuat yang pernah kutemui. Bayangan wajah dengan isak tangis itu selalu melekat di benak, tak mau hilang. Yang kutahu, wajah itu hanya dipenuhi oleh genangan air mata tiap malamnya. Seringkali tetesan hujan itu turun melalui pipi tanpa tahu di mana letak pesakitannya. 

Ingatlah bahwa kekuranganmu bukan sebuah kesalahan fatal. Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Maka, jangan sekali-kali kau membenci dirimu. Karena tanpa kau sadari, di luar sana ada orang yang sangat menyayangimu namun ia sulit tuk mengatakannya, seperti halnya aku pada diriku sendiri.

Dari aku, untuk aku, dan teruntuk seseorang di luar sana yang mungkin merasakan hal yang sama, ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu—mencintai diri kita, karena sebenarnya kau itu cantik dan berharga. Terbanglah tinggi seperti kupu-kupu yang bebas terbang ke manapun sesuka hati.

Oleh karena itu, tersenyumlah sayang. Ingatlah bahwa dirimu adalah alasan mengapa orang lain tergila-gila dengan senyum seorang malaikat yang cantik jelita.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day4

Rabu, 12 Desember 2018

Cinta Tak Bersambut


Sebentar, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.

Jadi begini, berulang kali kau sanggup dan rela mengirimi surat cinta kepadanya. Siang-malam kau ukir kata-kata indah hanya untuk memujinya di dalam surat itu. Bahkan kau tak hanya menuliskannya sebuah surat, tapi kau juga membuatkannya sebuah lagu menggunakan iringan gitar sampai jadilah sebuah melodi nan indah. Atau juga kau rela menggambar dan melukiskan sebuah potret tentang dirinya. Namun ia yang kau tuju tak kunjung membalas perasaanmu, suratmu, atau teks pesan yang kau kirimkan, maupun semua yang telah kau beri padanya. Berulang kali pula bayangan tentang dirinya selalu muncul dalam benak, bahkan sampai terbawa mimpi. Kau gila atau apa? Sudah tahu cintamu tak terbalas, masih saja kau rela menunggunya.

Sekali lagi, aku heran. Aku bangga dengan hatimu yang tak mudah koyak dan goyah.

Kemudian aku menemukan pencerahan dibalik semua ini—dibalik keteguhanmu dalam mencintai seseorang yang bahkan kau rela hatimu tercabik-cabik kala mendengar kabar bahwa orang yang kau cinta telah berpuan.

Oh pantas saja, ternyata ia adalah seorang publik figur. Sosok yang dikagumi dan dicintai seluruh gadis yang ada di muka bumi. Aku pun sering berujar bahwa diriku hanyalah sebatas upil kecil yang tidak beraturan bentuknya. Banyak pria yang kau cintai tapi tak kunjung terbalas. Contohnya, aku mencintai bassist dari salah satu band favorit asal Australia, atau tokoh yang memerankan Peter Kavinsky, atau pula gadis-gadis lain yang menyukai para boyband dan publik figur lainnya.

Kalau begitu, kapan kau ingin berhenti mencintai mereka? Sampai kapanpun cintamu tidak akan tersambut karena ia yang kau cinta tidak akan mengenalimu. Coba, belajarlah mencintai ia yang sedang mengagumimu dalam diam walaupun kau tak tahu bahwa ada seseorang yang menyayangimu selama ini tanpa sepengetahuanmu. Cintanya juga tak terbalas karena kau selalu sibuk memikirkan tokoh idolamu itu.



#30DWC #30DWCJilid16 #Day3

Surat Untuk Cinyo

Surat Untuk Cinyo, Cinyo, kamu datang dengan segala keluguanmu. Aku tak ingat kapan tepatnya kamu menghampiri rumahku. Yang kutahu hanyala...