Selasa, 11 Desember 2018

Kota Pelarian
















Aku suka berkelana, ke mana pun itu. Menurutku, berkelana mengitari suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi itu mengasyikkan. Belum lagi, kita akan menemui orang baru. Kita bisa berkenalan, menambah dan membangun ruang lingkup pertemanan, dari mereka kita bisa mengetahui banyak hal melalui kisah yang diceritakannya. Berkelana juga membuatku merasa lega. Aku adalah orang yang seringkali merasa penat akan kehidupan. Sesekali, kau juga butuh rehat. Mengistirahatkan pikiranmu pada seribu beban yang ada di benak. Caranya, lakukanlah apa yang kau sukai. Misalnya, dengan menyesap kopi atau cokelat panas di pagi hari maupun di malam hari sembari menuliskan sebuah cerita. Kau juga bisa riset dengan bepergian ke luar. Tak perlu jauh-jauh, pergi ke sebuah cafe terdekat pun juga membantumu untuk mencari ide yang dibutuhkan.

Seperti halnya yang aku lakukan sekarang ini. Aku sedang berada di sebuah jembatan di kota Delft. Duduk riang di kursi bersama laptop yang kupangku serta ukulele yang biasa kumainkan. Biasanya kalau kepenatan mulai datang, tempat ini akan kujadikan pelarian untuk menyegarkan pikiran dari segalanya. Sudah sebulan aku menetap di sini, di propinsi di Zuidholland yang terletak tak jauh dari kota Den Haag, Belanda. Pasti kau bingung, mengapa aku pergi jauh sekali hanya untuk mencari secuil inspirasi? Buang-buang uang saja. Sebenarnya, aku tak perlu menjawabnya karena aku sudah menjelaskannya sebelum masuk ke point. Aku suka menyendiri. Lagipula, aku sedang melarikan diri dari kenyataan walaupun kutahu itu tak akan membantu. Aku juga memutuskan untuk menimba ilmu di kota ini agar pelarianku tidak sia-sia begitu saja.

Namaku Nadeen Almira, sebut saja Nad atau Nadeen. Hari ini aku telah sampai pada sebuah rasa yang benar-benar membuatku bingung. Seringkali aku melihat pria itu. Pria yang selalu berada di depan kelasku ketika pelajaran usai. Entah, aku tak tahu. Mungkin itu hanya kebetulan. Mungkin saja, spot itu memang menjadi tempat favoritnya sejak lama. Ia juga selalu membawa kamera dan buku jurnal catatan ke mana pun itu. Kudengar, ia juga seorang fotografer yang handal di universitasku. Ia seringkali memenangkan perlombaan fotografi yang membuat nama baik kampusku menjadi lebih dikenal. Ah, mengapa aku jadi tahu banyak tentangnya. Sudahlah, nanti aku malah jatuh hati padanya. Lagipula, ia hanya orang asing dan aku sama sekali tak-tahu menahu tentang dirinya. Aku adalah anak baru di sini, jadi aku tidak berani bertindak macam-macam seperti ingin sekali mencampuri urusan orang lain. Tidak, aku tidak seperti itu. Lebih baik kufokuskan dulu pada cerita yang akan kutulis. Semoga saja, pria itu tidak masuk ke dalam ceritaku, tapi siapa yang tahu sih.. kita tidak akan pernah tahu kepada siapa kita akan jatuh hati. Bisa saja dengan lancang, esok kau akan mencintai temanmu sendiri bahkan kau mencintai orang asing yang baru saja kau kenal. Kita tidak pernah tahu.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day2

Senin, 10 Desember 2018

Kotagede, Saksi Bisu

Udara Jogja malam ini cukup sejuk, bahkan terbilang lebih sejuk dari biasanya. Memang, seharian ini kota diguyur oleh hujan deras yang menyebabkan segala aktifitas menjadi terhambat hingga menyebabkan suhu udara menjadi lebih dingin. Untung saja malam hari hujan berhenti, mungkin ia memberiku kesempatan di hari terakhirku berkunjung menemuinya di kota ini. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket. Ia yang berjalan di sebelahku hanya menatap lurus ke depan. Sesekali menatapku beberapa detik. Namun, tiap kali aku menangkap tatapannya, ia melempar pandangan ke arah lain seperti orang yang panik ketika pujaanmu tersadar bahwa kau memperhatikannya sedari tadi. Kami berkeliling sekitar Kotagede, kota yang dikenal sebagai daerah pengrajin perak peninggalan kerajaan Mataram. Masa remaja kami telah usai—habis tergantikan oleh usia yang menginjak dua puluhan. Aku merindukan saat-saat itu. Di mana, tiap sepulang sekolah kami selalu makan bakso di tempat langganan, kehujanan bersamaan lantaran aku tidak ingin memakai payung dan memilih hujan-hujanan, sedangkan ia hanya mengikutiku, padahal aku tidak memaksanya. Banyak yang tak bisa kuceritakan karena momen itu tidak bisa dihitung dengan jari. Sudah lama aku tidak bersua dengannya, bahkan kedatanganku ke Jogja sebenarnya bukan untuk menemuinya, melainkan tuntutan pekerjaan.

"Kenapa? dingin? sini, tangannya masukin jaketku aja. Lebih hangat,"

aku sedikit terkejut ketika ia merangkulku dan menaruh tanganku dalam saku jaketnya. Ia menggenggamnya seakan tahu aku kedinginan, padahal aku menyukai saat-saat kedinginan seperti ini agar bisa dipeluk. Haha, bukan, tentu bukan itu alasannya. Aku memang menyukai cuaca yang sejuk seperti ini. Namun ia memanfaatkannya agar bisa menggenggam tanganku sepertinya.

"Memangnya aku mengizinkanmu buat menggenggamku? nggak, kan? aku nggak kedinginan. Lagipula, aku sudah nyaman dengan saku jaketku sendiri."

"Hmm, kamu ingat?" ia mulai menerawang masa lalu, pikirannya seolah sedang menemui masa lampau yang sudah lama berdebu. "Dulu, aku berjuang sekali untuk mendapatkanmu dan aku sekarang ingin sate sapi yang itu tuh," ia menunjuk sebuah kedai yang berada di Lapangan Karang. Sate sapinya lumayan ramai dipenuhi pengunjung tiap malam.

"Ya, terus apa hubungannya dengan sate?"

"Aku lapar."

"Gak ada yang nanya."

"Jahat ih,"

"Kamu baru tahu, ya? sudah kenal aku berapa lama?"

"Kemarin sore. Ya, belasan tahunlah. Gimana sih mbak ayune ini." Aku hanya diam menatap ruas jalanan yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan. "Kenapa diam? ternyata masih sama ya, gak suka sate sapi. Padahal enak banget. Ya sudah, aku ke sana duluan, ya. Kamu tunggu sini," lanjutnya.

"Eh tunggu, aku ikut."  Aku mengikutinya dari belakang setelah ia berlari kecil menghampiri kedai itu.

Antrean panjang memenuhi barisan, sementara ia sudah berdiri di deretan paling pertama setelah mengantre sekitar sepuluh menit. Ia tetap membelikanku sate itu padahal ia tahu aku tak menyukainya. Katanya, ia sengaja membelikanku. Meskipun aku tak akan memakannya, setidaknya sate itu akan tetap berada dalam genggamanku sampai kedaluwarsa. Sama halnya seperti dirinya yang takkan pernah bisa kugenggam hingga hati ini telah melupa. Sebab kutahu pertemuan ini hanyalah sementara. Besok aku akan kembali lagi ke Jakarta setelah tugas selesai. Artinya, pertemuanku dengannya juga usai dimakan waktu. Aku begitu bingung dengan dirinya yang kerap kali berkata bahwa perasaannya terhadapku adalah kekal, namun bagiku yang kekal adalah kematian. Apalagi ini hanyalah secuil perasaannya padaku yang aku yakin tidak ada apa-apanya, mungkin saja ia tertarik padaku karena aku cantik. Tetapi ia belum tahu kalau aku ini monster yang menggemaskan.

"Jasmine, boleh aku tanya satu hal?" tanyanya disela keheningan.

"Iya, silakan."

"Kenapa kamu gak suka sate sapi?"

"Harus banget dijawab?"

"Iya dong."

"Oke, karena aku selalu ingat orang lain tiap aku melihatmu makan sate sapi kedai itu."

"Siapa dia?"

"Gak perlu tahu, gak penting juga. Rahasia hati."

"Siapa dia?" kali ini nada suaranya sedikit menghentak seakan ia harus tahu siapa lelaki yang sudah menempati ruang hatiku lebih dulu.

"Orangnya sudah gak ada, sudah pergi ke planet lain."

"Jangan bercanda."

"Kok jadi jutek sih? aku serius."

"Aku kecewa."

"Mau pergi? silakan. Aku nggak melarangmu kok."

"Aku selalu ikhlas tiap kali kamu tak mengacuhkanku. Aku rela kamu cabik-cabik hatinya dan aku selalu membantumu bangkit. Lalu, ini yang kudapat?"

"Sebentar, memang ada yang menyuruhmu untuk menetap? aku tidak pernah memintamu, Anggar!"

"Baiklah kalau seperti itu maumu. Kurasa, perjuanganku sudah selesai. Aku sudah tidak ingin menjadi pahlawan kesianganmu lagi."

"Aku tidak pernah memintamu, lagipula aku tidak pernah menaruh harap. Justru kamu yang berlebihan. Kamu tidak boleh menaruh harap yang berlebih pada seseorang. Jika orang itu tidak menerimamu, kamu yang akan sakit sendirian. Kamu sendiri yang akan menanggung lukanya. Sudah tahu aku jahat, tapi masih saja dikejar. Kalau sudah begini, aku yang disalahkan. Cinta itu nggak bisa dipaksakan, Anggar! sudahlah, ikhlaskan saja. Terkadang di dunia ini, kita harus mengikhlaskan apa pun itu termasuk mencintai. Memang itu sulit, tapi kuyakin kamu bisa. Kalau kamu tidak bisa ikhlas, ya begini jadinya. Kamu akan bisa marah dan menyalahkanku seolah aku orang terjahat sedunia. Ya, memang sebenarnya aku jahat!" aku menekan sedikit intonasiku sehingga ia sedikit geram.

"Aku tidak tahu sampai kapan, tetapi yang terpenting adalah kamu. Kamu harus tahu bahwa hati kecilku masih menginginkanmu, sejauh apa pun jaraknya."

Perlahan, rinai hujan kembali turun membasahi bumi. Ia mendekatkan tubuhnya ke arahku dan mengecup keningku, kemudian berbalik badan dan berjalan menjauh. Aku menganggap kecupannya sebagai kecupan perpisahan. Aneh, aku tak pernah merasakan degupan jantung yang amat kencang seperti orang yang sedang dimabuk asmara saat bersamanya ketika dalam jarak dekat seperti tadi. Berbeda ketika aku berdua dengan pria yang terlanjur mengisi hatiku terlebih dahulu, namun ia sudah meninggalkan bumi sekitar setahun yang lalu setelah kepergiannya. Hari mulai larut, menunjukan pukul setengah satu dini hari. Suasana kota juga masih lumayan ramai, namun aku seperti sendirian di tengah ramainya kota setelah pertikaian terjadi. Saking ramainya, tak ada yang menyadari bahwa kedua insan sedang bertikai. Biarkan rinai hujan di Kotagede menjadi saksi bisu antara dua insan yang egois saling menggebu tak mau mengalah perihal perasaan. Antara mengikhlaskan cinta dan juga tidak. Bagaimana mungkin aku semudah itu mempercayainya sebagai rumah tuk melepas penat sementara ia sudah lelah dengan percobaan yang kuberi. Salahkah jika aku meragu? Mungkin, dirinya hanya tercipta untuk mengisi hariku yang sepi, tapi tidak untuk penghuni hati, karena hatiku masih menolak untuk menemui rumah pada hatinya yang sebenarnya sama sepertiku—kosong.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day1

Sabtu, 01 Desember 2018

Surat Cinta


Hai tuan, lagi-lagi hari ini kutuliskan perasaanku di hatimu. Kubawakan aurora tuk menghiasi malammu. Kuundang musim semi hadir tuk menghangatkanmu. Kupinta butiran salju tuk menyejukkan jiwamu.

Entah sudah keberapa kali, aku tak lagi menghitung jumlahnya. Kurasa, aku terlalu sering menuliskanmu dalam aksara. Aku pun tidak bosan menuliskanmu dalam tulisanku. Kau ingin tahu apa alasannya? Karena aku ingin kau terus menetap dan tinggal dalam aksara yang kubuat. Aku ingin kau tetap tinggal dalam imajinasiku walau hanya sekejap. Di sana, aku bisa sebebasnya memujimu tanpa harus malu-malu mengungkapkan rasa. Aku ingin kau menari-nari di benakku—berdansa bersama diterangi temaram lampu istana kerajaan dan semua perhatian tamu tertuju pada kita. Walaupun kutahu, hal itu hanyalah sebuah angan dalam ingatan. Aku terlalu berimajinasi, ya? Mana mungkin kau merasakan apa yang kurasa, aku ini terkadang lucu. Aku memang suka mengkhayal tentang hal yang tak mungkin terjadi.

Seringkali aku membayangkan bahwa aku bisa memilikimu, namun aku belajar dari kehidupan bahwa cinta tidak harus memiliki. Seperti kata Nug—tokoh fiksi dalam novel Kata, aku mencintaimu tanpa berharap apa pun. Itu memang kebenarannya. Aku sedang tidak berbohong, tuan. Kalau kau tidak percaya, coba tatap mataku. Ia tak pernah bohong, tak seperti mulut yang terkadang berpura-pura untuk menutupi perasaan yang sedang hinggap dalam hati.

Tuan, kuharap kau tidak keberatan jika aku menyimpan rasa ini secara sembunyi. Jangan paksa aku tuk berpaling, karena hatinya masih terpatri untukmu. Ia telah menyelinap masuk ke dalam hatimu diam-diam agar tidak ketahuan. Seperti pencuri yang datang dengan menyergap lalu mengambil segalamu, tetapi aku tidak begitu. Aku tidak ingin mencuri hatimu. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa aku bisa mencintaimu sendirian tanpa perlu balasan. Dengan melihatmu saja sepanjang hari sudah membuatku bahagia. Dengan hadirnya dirimu, aku sudah lupa akan rasa sakitku. Cukup netra yang berbicara, aku yakin kau merasakannya walaupun tidak terang-terangan. Karena di netramu, kerlip bintang tersenyum riang kala sinar rembulan padam dihisap kegelapan malam.

Kepada seorang pria dengan mata nan indah dan senyumannya yang memabukkan. Binar senja pun kalah indahnya dengan merah pipinya ketika ia tersenyum padaku.

Tertanda,
—jasminetales

Hadiah


"Heyaa!" aku menepuk bahu perempuan itu seraya berjalan mengendap-endap, lalu mengagetkannya dari belakang.

"Apaan sih woy ngagetin aja! kenapa harus lo lagi sih? gua capek tau ga?!" tubuhnya hampir terjengkang ke belakang dan untung saja refleksku menahannya agar tidak jatuh. Iya, ini seperti macam sinetron ftv, namun kami tidak seberlebihan itu. Justru ia membentakku begitu saja karena terkejut. Sudah kuduga responnya akan seperti ini. Perempuan seperti dia mana bisa romantis, tapi aku menyukainya meskipun ia galak.

"Makanya, siang-siang jangan suka bengong!" ujarku sembari mengacak-acak rambutnya yang terurai untuk menetralisir suasana.

"Heh, bisa diem gak?! gak usah ngacak-acak rambut orang! lo tau gak? gua catok rambut ini tuh capek, karena rambut gua yang super-duper keriting!"

"Eh galak banget si cewek yang satu ini, ampun-ampun, mba."

"Gak, gak ada ampun bagi lo!"

"Hadeh, mau sampai kapan sih kamu begini terus? aku cuma mau kamu ketawa doang. Biar gak kusut itu muka."

"Stop, berhenti ngomong atau gua pergi dari sini." Ia meletakkan telunjuknya ke depan bibirku. Tatapannya sangat ganas seperti ingin menerkamku saat itu juga. Aku tak tahu apa yang membuat dirinya segalak ini padaku. Padahal aku tidak pernah berbuat salah padanya, aku hanya seorang seniornya di kampus dan kemudian aku jatuh cinta padanya.

"E-eee-eehh, berhenti gerak!" seruku layaknya petugas ucapara yang sedang bertugas di lapangan. Aku menahan lengannya dengan sigap dan menariknya kembali ke hadapanku.

"Mau apa lagi sih? belum puas gangguin anak orang, hah?!"

"Eitss, tunggu dulu dong. Nih, aku punya sesuatu. Sebentar, jangan ditinggalin. Awas loh. Kalau kamu ninggalin, berarti kamu punya hutang sama aku!" ancamku padanya sambil tersenyum geli. Aku gemas sekali kalau melihat ia cemberut seperti ini. Tapi siap-siap saja, aku akan terkena amukkannya sebentar lagi.

"Mana, gak usah lama-lama!" perempuan itu melipat kedua tangannya dengan gayanya yang dingin. Ia memang terkenal dingin dan cenderung cuek. Tak seperti perempuan lain yang kebanyakan haha-hihi kecentilan di depan lelaki.

"Nah, ini diaa!" aku mengambil sesuatu dari dalam ranselku dan membuatnya penasaran. "Eh tunggu dulu. Kamu harus tutup mata, baru nanti aku kasih. Terus, buka kedua tangan kamu lebar-lebar, nanti hadiahnya aku taruh di situ. Tapi ingat, jangan dibanting ya, aku bikinnya susah payah cuma buat kamu."

"Iya-iya, gak akan dibanting." Situasi sudah aman. Ia memejamkan matanya dan aku bisa melancarkan aksiku. Kuletakkan sebuah bingkai itu di kedua jemarinya yang terbuka lebar. Dalam hitungan ketiga, kusuruh ia membuka mata dan alangkah terkejutnya ia melihat bingkai yang barusan kuberi.

"Ginda, i.. ini gambar Calum? buat aku? kamu yang lukis?" sepertinya ia terlalu bahagia hingga bicaranya terbata-bata.

"Iya dong, itu buat kamu. Aku buat semalaman."

"Kenapa kamu baik banget? makasih ya, padahal aku selalu jahat sama kamu."

"Hmm, apa itu membutuhkan sebuah jawaban?" ia hanya diam menatapku. "Oke, begini ya sayang, aku cuma ingin kamu bahagia, kamu tersenyum, dan gak kusut terus. Aku gak mau ngeliat kamu cemberut tiap harinya, dan.. tadi kamu panggil aku dengan sebutan 'kamu'? aku tidak salah dengar, kan?"

"Hih, jangan geer deh. Lagian gua gak sengaja panggil lo dengan sebutan 'kamu'. Kebawa suasana. Jadi, please jangan kegeeran."

"Halaah, masa sih. Kalau iya juga gapapa, panggil sayang malah lebih bagus lagi."

"Heh Ginda, awas lo ya kalo godain gua lagi! sekali lagi lo ngomong gitu gua tonjok!" aku kabur seketika ia betul-betul ingin menghajarku. Aku tertawa terpingkal-pingkal melihatnya geram. Ternyata bahagia sesederhana ini. Melihatnya geram karenaku, ia jadi semakin menggemaskan. Aku hanya ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja dan ia harus tahu bahwa ada aku yang terus memperhatikannya setiap hari. Setidaknya, hadiahku sudah ia terima dengan aman walaupun lagi-lagi aku kena ocehannya. Aku yakin, hadiah pemberianku akan sangat disukainya. Lantas, hadiah untukku hari ini adalah, aku berterima kasih pada Tuhan karena masih mengizinkanku untuk membuatnya senang, meski hadiahnya tak seberapa. Namun gadis itu sangat berarti untukku.

Angkringan Nasi Kucing Pak Djono


"Wah, Ndri lihat itu! ada nasi kucing!" Gadis itu berseru padaku. Membuatku sebal karena teriakannya membuat telingaku sakit.

"Apaan sih, Nay? kenapa? mau makan, hmm? padahal baru juga selesai makan, masa mau makan lagi. Itu perut apa karet?"

"Eh jangan gitu dong. Mumpung gua lagi di Yogya, lu harus gunakan kesempatan ini. Makan bareng sama gua sebanyak-banyaknya. Biarin lu gendut, gua gak peduli!"

"Yeh nih anak. Kayaknya cewek yang doyan makan sampai segininya cuma lu doang deh. Kebanyakan cewek yang gua ajak ngedate sambil makan pada jaim. Alasannya katanya takut gendut, jaga body."

"Yaelah, masih mikirin gendut? cupu lu. Ayo makan. Gak pake lama! atau lu yang gua tinggalin di sini."

"Dasar nyebelin lu ya! baru ke Yogya sekali doang udah sok tahu banget."

Ia hanya menjulurkan lidahnya sembari melipat kedua tangannya di dada. Bukan Nayla kalau tidak menyebalkan, aku sudah hafal tiap perbuatannya.

"Oke deh, mau pilih apa?"

"Gua pilih nasi bandengnya dua, nasi ayamnya dua, sama nasi bakar dua. Terus sate kerangnya dua dan apalagi ya? hmm, sate paruhnya dua, dah cukup."

Aku terperangah begitu ia menyebutkan makanan yang akan ia beli. Masalahnya, aku yang mentraktirnya makan gara-gara aku sudah menjanjikannya tadi.

"Hah?!? wah gila, gila lu ya. Banyak banget, itu lu yakin bakal habis? gua gak habis pikir. Lu selama tinggal di Jakarta emangnya gak pernah makan ya?"

"Enak aja, ya gak bakal habislah. Paling gua sisain."

"Ya terus kenapa lu belinya banyak, nona manis?"

"Kan biar bisa dimakan juga sama adik gua di rumah. Jadi gak gua doang yang kekenyangan, gitulhoo. Ah, si Endri gimana sih. Lu kenal gua udah berapa tahun sih? kayak baru kenal aja deh."

"Iya, iya, iya. Ya udah, gua beliin. Tapi inget, harus dimakan ya."

"Nah, gitu dong pak bos! makasih ya!"

Ia meraih kantong plastik berisi makanan tersebut. Aku belikan semua yang ia pinta. Berhubung Nayla adalah karibku, jadi kulakukan semua untuknya. Termasuk membuatnya gendut malam ini. Kami memang suka berkuliner bersama, bahkan debat kali ini bukanlah debat kali pertama antara aku dan dirinya. Jadi, aku sudah memaklumi.

"Eiits, tunggu dulu. Ada satu hal yang lu harus tau."

"Apaan tuh?"

"Bolehlah, sekali-kali lu masak buat gua. Masakan lu kan enak, anggap aja gua suami lu, HAHAHA!"

"ENDRII! AWAS, GUA PECAT JADI TEMAN LU YA!"

Teriaknya sambil berlari mengejarku yang sudah lari terbirit-birit meninggalkan tenda.

Senja Bersama Jani

Suara burung camar terdengar kencang di udara, kicaunya mengisi ruang hampa di hati lelaki itu. Sepoi angin segera membelai rambutnya begitu ia berpijak pada pasir pantai. Ia tahu, tempat ini akan selalu menjadi tempatnya untuk pulang. Ditemani keindahan senja yang begitu mempesona. Awan berarak mengikuti arahnya angin. Mereka berarak sangat pelan dan rapi seperti tak mau pisah satu sama lain, lalu tersirat warna jingga di dalamnya. Langit senja memang selalu membuatnya nyaman. Ia tak salah jika menjadikan tempat ini sebagai rumah keduanya untuk melepas penat setelah ia memutuskan untuk menitipkan hatinya pada gadis itu, Jani.

"Gimana? suka nggak sama langitnya?" tanya Ginda pada seorang gadis yang duduk di sampingnya.
"Suka, langitnya cantik."
"Iya, sama cantiknya kayak kamu."
"Ginda, jangan gombal deh! ia menyenggol siku pria itu dengan geram.
"Haha, kayaknya cuma kamu deh yang kalau dipuji tuh selalu gak suka."
"Emang gak suka."
"Kamu tahu? semakin kamu begitu, aku semakin suka."
"Suka doang kan? belum sayang?"
"Udah kok, udah sayang. Dari dulu, tapi kamu selalu menghiraukannya."
"Karena aku gak mau kamu masuk ke dalam duniaku."
"Kenapa?"
"Duniaku rapuh, gelap, gak ada cahaya, nanti kamu tersesat.
"Sini, aku bantu keluar."
"Aku ragu."
"Apalagi yang harus diragukan, Jani? apakah aku belum bisa membuatmu yakin padaku?"

Gadis itu hanya diam, tak memberi jawaban. Pikirannya beterbangan ke mana-mana. Mengingat ia tak akan bisa semudah itu percaya dengan cinta. Katanya, jatuh cinta bisa membuatmu senang. Namun, ia masih meragukannya setelah ia melihat kisah cinta ayah bundanya harus berakhir memilukan. Tanpa sengaja, hal itu membuatnya sangat sakit dan tak henti-hentinya ia jatuh ke dalam lubang yang dalam.

"Jani, dengarlah. Aku tak pernah berbicara mengada-ada. Aku tak pernah mengarang cerita kepadamu. Yang kukatakan padamu, itu selalu mengenai faktanya. Fakta bahwa aku telah menitipkan keseluruhan hatiku hanya untukmu."
"Jangan gitu, ah. Banyak yang lebih cantik dariku. Jangan titipkan hatimu padaku, aku tak mau merusaknya."
"Tapi, jika aku maunya kamu, gimana?"
"Ya, gak gimana-gimana."

Ginda menarik lengan Jani dan meletakkan telapak tangan gadis itu pada dadanya, "Jani, coba dengar. Apakah kamu mendengar bunyi ini? bunyi detak jantungku? bunyi yang selalu membuatku hampir gila tiap berada di dekatmu? iramanya melaju begitu cepat, untung saja jantungku tidak copot di hadapanmu."

"Haha, kalau copot, apakah itu akan menyakitimu?"
"Tidak, kalau kamu sendiri yang akan mencopotnya."
"Kalau orang lain?"
"Aku tak membutuhkan orang lain untuk mencopotnya. Aku hanya butuh kamu"
"Aduh, Ginda, udahlah."
"Jani, kapan kamu akan menyayangiku?"
"Gak tahu."
"Secepatnya, ya?"
"Gak janji."
"Baiklah, aku menyayangimu tanpa harapan, Jani. Setidaknya, izinkan aku menyayangimu walaupun aku tak tahu kapan tepatnya kamu akan kembali menyayangiku."
"Lho, katanya gak berharap?"
"Aku hanya tak ingin membuat tuan putriku pusing memikirkannya. Udah, jangan dipikirin. Mending mikirin aku aja."

Jani mendorong pelan tubuh Ginda karena sebal. Baginya, pria itu sangat kegeeran. Tetapi entah kenapa, setiap perkataan yang keluar dari mulutnya selalu membuat gadis itu merasa aman dan tak sendiri. Namun tetap saja ia berpegang teguh pada pendiriannya bahwa ia masih belum bisa mempercayai cinta seutuhnya lantaran hatinya masih diselimuti oleh abu yang tebal. Ginda hanya mengacak-acak rambut gadis itu dengan pelan sambil tertawa. Pria itu memang tidak berharap lebih, hanya dengan melihat dan menatap gadis itu, kemudian memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan gadisnya, itu sudah lebih membahagiakannya dibandingkan melihat gadisnya murung. Bahagianya hanya sesederhana itu. Gadis bernama lengkap Senjani itu memang telah merebut segala perhatian Ginda dari dunianya sejak dua tahun terakhir. Senja pun tenggelam dengan sinarnya yang indah. Mengakhiri percakapan dua insan yang sedang dilanda asmara, meskipun hanya satu yang berbunga-bunga.



Sabtu, 12 Mei 2018

Lost in the Middle


Angin menyambar-nyambar malam ini. Aku bersumpah, dinginnya menggerogoti kulitku yang meronta ingin segera dilekatkan sebuah jaket. Lantas kutersadar, tak akan ada orang yang menemaniku di sini, di tempat persembunyianku. Jika kau menanyakan tentang bagaimana keadaanku sekarang, aku berantakan—hampir tidak bernapas dengan sakit yang amat dalam di dadaku. Namun kuyakin, di setiap kesakitan selalu ada penyembuhan. Apa kau mempercayainya?

Aku menemukan kenyamanan di tempat gelap temaram cahaya seperti ini, entah mengapa. Hanya ditemani oleh suara burung malam yang berkicau di sekelilingku, redupnya lampu menambah suasana menyeramkan tetapi melankolis. Memoriku kembali berkelana, mengingat sekeping memori di masa lalu akan lagu berjudul Hello dari Evanescence dibagian, "has no one told you she's not breathing? Hello, I'm your mind giving you someone to talk to." Lirik itu mencabikku, mengingatkanku pada adikku yang sudah tiada dan aku rela bersembunyi di tempat peristirahatannya sendirian. Aku memang selalu sendiri, kesendirian adalah temanku sejak dulu.

Tidak, jangan mencoba untuk memperbaikiku. Aku baik-baik saja, aku tidak gila, aku hanya merasakan kekosongan dan tidak bisa berbuat apa-apa selain berlari ke tempat ini dan menangis. Aku paham, menangis meraung-raung di tempat peristirahatan orang yang telah tiada memang tiada guna. Ia tak akan memelukku namun setidaknya hatiku sedikit lebih lega setelah itu. Apa kau merasakannya? Aku tahu kau ingin menemaniku, kan? Jangan dulu, ya? Aku ingin sendirian saat ini, hatiku masih terlalu rentan.

Tersesat? Ya, aku tersesat. Tersesat dalam jiwa yang tak tahu arah. Tak tahu jalan pulang. Kini yang kutahu hanyalah mengambil sisa kesempatan, peluang di mana aku bisa menangis sepuasnya, sejadi-jadinya sampai wajahku merah berantakan. Lalu, apa yang kan terjadi setelah itu? Pingsan dan menemukan diriku berada di rumah sakit saat itu. Ternyata petugas di sana membawaku ke rumah sakit dan aku sempat koma beberapa hari, tragis sekali.

Kalau diibaratkan, aku sudah tak mau lagi berteman dengan kesedihan. Aku ingin ia menghilang dan lenyap dari kehidupan. Maukah kau membantuku? Baiklah, untuk yang terakhir kalinya aku permisi mundur, mundur dari kehidupan. Jangan cari aku, ya? Aku akan aman dan baik-baik saja. Kau mengerti?


-------------------
(Kali ini, cerpennya juga terinspirasi dari lagu Lifehouse berjudul Broken. Nggak, penulisnya gak lagi broken kok. Ini tulisan kemarin malam buat challenge harian, saya juga takut nulisnya karena serem, tapi buat tantangan aja wkwk. Jangan lupa dengerin juga lagunya ya biar kebawa emosinya hahaha! *Sstt dan karena penulisnya juga lagi seneng sama Lifehouse ini, suaranya enaaak didenger, gak kayak suara saya sember wkwk boong deng)

Mencari Kepingan Hati


Aku mencarinya, mencari sosok seorang gadis yang telah mampu membuat diri ini tak berdaya ketika netraku bertemu tatap dengannya. Langkahku berhenti di sebuah stasiun. Kata orang di sekitarku, ia akan pergi meninggalkan kota ini, entah tujuannya untuk apa. Derap langkahku masih sibuk mencari, netra menerawang, dan membayangkan di mana posisinya berada. Berbagai sudut tempat yang terletak di tempat ini telah kutelusuri, namun hasilnya tetaplah nihil. Aku bahkan tak tahu harus berbuat apalagi untuk menemukannya, seakan jarum jam pun enggan tuk berdetik. Menambah waktu yang kian lama bergulir dengan cepat. Aku tak bisa mengejarnya, namun aku juga tak bisa mundur dalam situasi seperti ini. Tanpa kusadari, ia membuatku kepalaku sedikit berdenyut karena memikirkannya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi bila aku tak bisa lagi memandangnya. Aku mengacak rambutku, aku tahu ini salahku, aku yang terlambat untuk mengungkapkan semuanya bahwa aku menyayanginya. Sungguh, ia telah menyita semua perhatianku. Apapun yang ia lakukan terasa indah dan benar di mataku.

Aku mencoba menepuk bahu seorang gadis yang sedang melihat papan jadwal keberangkatan kereta, ia berbalik arah dan memandangku. Namun yang kutemukan bukanlah dirinya, aku salah sasaran. Orang itu kembali lagi menatap jadwal. Jujur, tak pernah sebelumnya aku mengalami hal seperti ini. Ia membuatku frustasi tanpa sengaja. Bahkan rasa lelahku tak ada artinya dan akan lebih sakit jika aku gagal menemukannya.

Aku memberanikan diri kemudian menuruni anak tangga yang mengarah di mana kereta tersebut akan datang menjemput sang penumpang. Berulang kali diriku dihadang oleh petugas karena aku sama sekali tidak mempunyai tiket, aku hanya mempunyai sebuah kartu tanda penduduk dan surat izin mobilku. Tetap saja petugas menghadangku, aku tak akan lengah begitu saja. Sebisa mungkin aku memohon agar diizinkan memasuki peron area di mana penumpang beranjak memasuki kereta, dewi fortuna akhirnya datang membantuku. Petugas memberiku jalan, aku dipersilahkan memasuki tempat yang kutuju. Netraku kembali berkelana. Aku melihat sekelebat bayangan dirinya yang sedang duduk di kursi sembari menunggu kereta datang. Benar, dugaanku tidak salah. Itu adalah dirinya, perjuanganku tidak sia-sia.

"Eh, hai.. aku mencarimu," sial, mengapa degup jantungku menjadi tak beraturan ketika kumenyapanya. Aku bahkan tak berani untuk menatap matanya kali ini. Untuk kali pertama aku tidak berani menatapnya dari jarak dekat.

"Mencariku? untuk apa?" Ungkapnya penasaran, oh Tuhan, ia menatapku. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Aku menjadi sangat kacau sepertinya.

"Aku ingin memberikan kartu ini." Aku mengeluarkan sebuah kartu dari dalam kantung celanaku. Aku ingat, dulu aku pernah mengukir namanya di sebuah kartu tanpa sengaja, kemudian kuberikan kartu sederhana itu padanya. Tak seberapa indah, hanya terukir namanya di sana dan betapa bahagianya aku ketika ia tersenyum riang ketika melihatnya.

"Ehm.. sederhana sekali, tapi aku suka." Bibir mungil itu mengulas sebuah senyum, rona merah terpampang jelas di wajahnya yang berseri.

"Oh ya? terimakasih banyak." Tanpa aba-aba aku langsung memeluknya, tak akan membiarkannya pergi lagi dari hadapanku. Yang dipeluk hanya terkejut, tak lama kemudian ia membalas pelukanku dan membuat tubuhku terasa kaku.

"Aku tak mau kau pergi."

"Aku tak akan pergi, hanya ingin singgah sebentar ke tempat lain. Karena sepertinya, aku telah menemukan rumah untuk kujadikan sandaran. Semoga kali ini perasaanku takkan salah menafsirkan lagi, semoga saja."

"Siapa dia?"

"Hatimu."

Aku tertawa dan mencubit hidungnya karena gemas. Ia pun bersin-bersin seketika, kemudian ia tertawa geli. Katanya, ia akan bersin ketika hidungnya dicubit, sensitif memang. Intinya, aku bahagia hari ini. Aku merasa bersyukur karena Tuhan masih memberikanku anugerah terindah untuk kujaga selamanya, sebisa mungkin.

------------
(Hai haii, jasmine fragrance kembali lagi nih dengan cerpen baru. Cerpen di atas terisnpirasi dari lagunya Lifehouse berjudul You and Me. Harus banget didengerin pas baca cerpen ini ya, biar feelnnya dapet hehe, okay selamat malam readersku! Semoga harimu indah kayak tokoh di cerpen ini ya! )

Kamis, 03 Mei 2018

The Night with Frozen Pine


If I walk through these woods long enough I can see the footsteps we left so many years ago. The trees have grown since then, making the pines look old and ancient, carrying our story within their rings.

I see you everywhere I look. When the rain falls on the golden leaves, they shine like your hair used to. And the green grass that grows in the spring is deep and rich and raw like your eyes. The brown bark of the elms is the same color as those leather shoes you wore to take me dancing on saturday nights.

My heart yearns to touch you just one more time. Most days I wear the white dress with the red wine stain from the night you asked for my hand, just to remember being close to you. Sometimes I remember the carefree bliss we held between us on rainy days, and the smell of roses and old leather bound books take me back to the night we met.

I wander these woods, and they embrace me as their own. They wipe my tears with their evergreen branches, they sing to me with their songbird’s sonnets. At night the stars shine through the swaying trees and I wonder if we gaze at the same sky.

Sometimes I remember the overflowing happiness I held when you were mine, and I look out at the sea below where the forest juts out into a cliff and believe that if I listen closely to the waves hitting the rocks I can hear your laughter within the sweet serenity.

And then I remember that the wine stain on my dress is not a memory, but a reminder of what separated us, and that terrible night when the glass painted the pavement with jagged crystals and torn strips of metal. And the red lights flashed so insistently. They shined intermittently on your scared green eyes as you held my hand tightly, and somehow that sight was more painful than any wound my body held.

And red stained my dress, like a bright rose blossoming, but it was not wine, and it was not beautiful.

I remember that the only time you can see me is as a name on a gravestone, and so I should count myself lucky to see you in the beauty of these woods.

And so I keep on walking with the moonlight as my company, and know that I will wait for the day that your brown leather shoes walk beside me, and we can dance once more to the tune of the timbers, and the only lights that shine on your green eyes will be the shimmer of starlight.

;
This lament was inspired by the song "the night we met" and "frozen pines" by Lord Huron, so enjoy with this one! 💕
#jasminefragrance

Minggu, 22 April 2018

Why I Write?

Hellooooo friends! Long time no see, haha. I have come back after a long time not write about anything here. Uh, I miss you my readers. Do you miss me? Oh come on, you definitely miss me and miss my writing, right? Okay, so I decided to write my reason why I love writing so much!

Ever since I was a little, I have always been known to be writing in notebooks. Every moment, holiday, and the feeling I can't say. I would always ask for new notebooks just so I could write whatever was in my head. It wasn't until my freshman year of high school when I really figured out that writing was my passion more than anything else. There are a few things that I learned to love about it ;

1. I'm more real with myself when I write than I am when I'm not writing
I've come to learn that I post something for the world to see. When I post my words, my ideas, and my heart through my writing, I need to make sure that what I'm writing about actually means something to me. In the past year, I have learned more about myself because I forced myself to dig deep into my heart and find out what going on in there. For me, there's no reason to write and to take up space on the internet if what you write isn't meaningful to you.

2. It has become my therapy
I've learned that I don't do a very good job at telling people how I feel. My words get all jumbled up and what I ended up saying wasn't what I wanted at all. I have found that when I write, I immediately feel better and feel as if what I meant to say, came out the exact way that I wanted.

3. It has become a part of me
I feel as if writing has become my purpose. Like it's what I'm supposed to do. I know that, as a writer, I have a lot to improve on but I don't have to be great writer to do it. I just have to have a notebook and pen.

4. I pay attention to every detail in someone's story
I love the rhythm of writing, the way you can articulate the way your thoughts sound using commas, periods, exclamation points, or all caps. It is amazing that humans have the ability to communicate their inner personal dialogue through a series of marks on a paper. Writing is a communicative tool that connects people in itsuniformity.

5. Being able to write is one of the greatest accomplishments of humanity
I write to express. I feel like myself when I’m writing. I write not for the purpose of being published or the intention of being read, but for the thrill of putting pen to paper. I write for love of the craft, for the sake of writing itself.

6. It opens my mind to new ideas
This happens more often than you think. I'll be writing about something and somehow, that idea I was trying to develop completely turns my head towards another idea. This, I think, is when my best writing comes out. To be completely thrown off into another idea is inspiring.



That's all I can say, happy reading and hope you like it! :)

Rabu, 19 Juli 2017

Spidyzel (The Friendship between Spiderman and Rapunzel)

Aku menikmati setiap pemandangan hutan yang kulewati dengan telapak kaki telanjang tanpa alas, setelah bertahun-tahun aku berdekam di sebuah kastil tua dan bahkan akupun tak boleh keluar dari ruang kamar. Untung saja, ruangan itu cukup besar. Maka dari itu aku betah walaupun ingin rasanya aku keluar dari kastil yang terpencil itu. Namun sekarang, aku bebas pergi keluar dan merasakan betapa indahnya alam ini dengan hati yang gembira. Sepanjang perjalanan, aku hanya menari, berloncat-loncat riang layaknya anak kecil, dan tak lupa burung-burung itu berkicau menemani dan mengiringiku bernyanyi.

Ada uniknya juga di hutan ini, terdapat sebuah restoran namun sederhana. Mungkin disediakan untuk pengembara yang tersesat atau para petualang yang membutuhkan makanan untuk sepanjang perjalanan lalu dapat mampir ke restoran untuk beristirahat sejenak. Aku sudah hampir setengah perjalanan berada di hutan ini. Karena lelah, aku memutuskan untuk duduk dan merebahkan diri di rerumputan. Tapi aku melihat sesuatu yang ganjil disana, di dahan pohon yang letaknya lumayan jauh dari posisiku saat ini. Tak mau membuang-buang waktu, aku berlari menuju pohon itu. Pohon itu sangat tinggi dan besar sehingga jika ada orang yang berdiri diatas sana, aku akan terlihat sangat kecil dan aku tak peduli. Entah, makhluk apa itu. Aku sama sekali tidak pernah melihat makhluk itu sebelumnya. Tubuhnya berkostum merah dengan jaring laba-laba yang menopang tubuh itu yang berposisi bergantung terbalik.

Aku bingung. Aku ingin menghampirinya tetapi aku takut ia jahat. Aku hanya gadis polos dan lugu yang baru pertama kali keluar rumah.
Tetapi karena rasa penasaranku makin kuat, aku memberanikan diri menghampirinya dengan posisi tubuh terbalik mengikuti dirinya. Jika ia bisa bergantung di pohon dengan tubuh terbalik menggunakan jaring laba-laba, aku juga bisa bergantung menggunakan rambutku yang super panjang ini, lagipula rambutku mempunyai kekuatan. Jadi aku tak perlu khawatir jika rambutku rusak. Kuikatkan rambutku di dahan pohon dan, Hap! Posisiku sekarang sudah sama seperti dirinya. Ia yang tadinya tak menyadari kehadiranku, sekarang ia menatapku dengan penuh tanya, sepertinya ia juga tidak tahu makhluk seperti apa diriku karena aku mempunyai panjang rambut yang berbeda dari manusia pada umumnya. Aku tahu ia ingin berbicara, tetapi ia tak tahu harus berkata apa.

"Hai!" Sambutku padanya. Tetapi ia masih menatapku dengan tatapan aneh penuh tanya.

"Hai!" Sapaku sekali lagi. 

"Siapa kamu? Kenapa posisi tubuhmu mengikutiku? Kau penguntit?" Ucapnya dengan tatapan selidik.

"Hahaha, aku bukan penguntit. Aku bahkan hanya seorang gadis biasa yang sedang berjalan-jalan di hutan, namun kebetulan aku menemukan makhluk aneh yang sedang bergelayutan di dahan pohon. Karena aku penasaran, jadi aku menghampirinya." Aku menjelaskannya dengan senang hati.

"Lalu, rambutmu? Kau juga bisa bergelayutan dan berposisi terbalik di dahan pohon." Tukasnya.

"Namaku Rapunzel, aku biasa hidup di kastil yang tinggi dan sepi. Dimana orang-orang tak bisa dengan mudahnya menemukanku. Dan aku sudah terbiasa memanjat tebing atau bahkan rumahku sendiri dengan rambutku ini. Dan aku hanya ingin melihat bintang. Ohya, bisakah kau membawaku ke tempat dimana aku bisa melihat bintang?" Aku bercerita panjang lebar lagi. Kurasa, aku termasuk orang yang nyaman bercerita kepada siapa saja yang menurutku ia ramah.

"Oh, aku adalah Spiderman. Mutasi manusia, juga pahlawan. Aku mempunyai kemampuan kecepatan super, stamina, ketangkasan, dan daya tahan. Kemampuan untuk berpegangan pada banyak permukaan, Kemampuan untuk menembakkan jaring laba-laba dari pergelangan tangan dan panca indera laba-laba."

"Wow, sangat keren. Aku beruntung bisa bertemu denganmu. Aku punya satu permintaan. Apakah kau mau mengiyakannya?" Aku langsung menggebu-gebu ketika tahu ia dapat menembakkan jaring laba-laba dari telapak tangan.

"Apa itu?" Jawabnya dengan tangkas.

"Ambilkan aku sebuah bintang dan aku akan bahagia. Aku berjanji tidak akan pergi meninggalkan rumah asalkan kau bisa mengambilkan bintang untukku."

"Hah? Kau gila! Bintang itu letaknya sangat tinggi, tinggi sekali. Jaringku tak akan mampu untuk menggapainya." Ia menggelengkan kepalanya sambil berdeham.

"Aku paham, aku hanya ingin melihat bintang saja seperti dalam lukisanku." Aku menundukkan kepala tanpa sadar.

"Begini saja, kau kembali kerumah dan berdiam diri disana."

"Kau menyuruhku kembali? Aku susah payah keluar dari tempat itu kau tahu?! Dan kau menyuruhku kembali? Enak saja. Tak akan! Aku ini sedang melarikan diri!"

"Hey, hey, dengar. Aku belum selesai bicara. Kau kembali ke kastilmu itu, lalu setelah ini aku akan mengantarmu pulang dan menemanimu melihat bintang dari jendela kamarmu. Akan ada lampion berbentuk bintang yang melewati kamarmu. Aku akan menemanimu sampai pelepasan lampion itu berakhir."

"Benarkah? Kau tidak bohong? Yay, horee kalau begitu ayo kita pergi. Lagipula, aku sudah pusing bertengger di dahan pohon dengan posisi terbalik." Aku berteriak bahagia kembali.

"Itu karena kamu tak terbiasa berposisi terbalik. Sudahlah, ayo jalan." Ujarnya sambil berdiri.


Selalu ada hal unik jika kita pergi keluar rumah. Beruntungnya, aku bertemu spiderman ini, biarpun ia cuek tetapi mengesankan. Ia menggendongku karena aku lelah. Tak apalah, sekali-sekali Spiderman harus bertingkah manis dengan gadis polos layaknya anak kecil sepertiku.

Surat Untuk Cinyo

Surat Untuk Cinyo, Cinyo, kamu datang dengan segala keluguanmu. Aku tak ingat kapan tepatnya kamu menghampiri rumahku. Yang kutahu hanyala...