Minggu, 22 April 2018

Why I Write?

Hellooooo friends! Long time no see, haha. I have come back after a long time not write about anything here. Uh, I miss you my readers. Do you miss me? Oh come on, you definitely miss me and miss my writing, right? Okay, so I decided to write my reason why I love writing so much!

Ever since I was a little, I have always been known to be writing in notebooks. Every moment, holiday, and the feeling I can't say. I would always ask for new notebooks just so I could write whatever was in my head. It wasn't until my freshman year of high school when I really figured out that writing was my passion more than anything else. There are a few things that I learned to love about it ;

1. I'm more real with myself when I write than I am when I'm not writing
I've come to learn that I post something for the world to see. When I post my words, my ideas, and my heart through my writing, I need to make sure that what I'm writing about actually means something to me. In the past year, I have learned more about myself because I forced myself to dig deep into my heart and find out what going on in there. For me, there's no reason to write and to take up space on the internet if what you write isn't meaningful to you.

2. It has become my therapy
I've learned that I don't do a very good job at telling people how I feel. My words get all jumbled up and what I ended up saying wasn't what I wanted at all. I have found that when I write, I immediately feel better and feel as if what I meant to say, came out the exact way that I wanted.

3. It has become a part of me
I feel as if writing has become my purpose. Like it's what I'm supposed to do. I know that, as a writer, I have a lot to improve on but I don't have to be great writer to do it. I just have to have a notebook and pen.

4. I pay attention to every detail in someone's story
I love the rhythm of writing, the way you can articulate the way your thoughts sound using commas, periods, exclamation points, or all caps. It is amazing that humans have the ability to communicate their inner personal dialogue through a series of marks on a paper. Writing is a communicative tool that connects people in itsuniformity.

5. Being able to write is one of the greatest accomplishments of humanity
I write to express. I feel like myself when I’m writing. I write not for the purpose of being published or the intention of being read, but for the thrill of putting pen to paper. I write for love of the craft, for the sake of writing itself.

6. It opens my mind to new ideas
This happens more often than you think. I'll be writing about something and somehow, that idea I was trying to develop completely turns my head towards another idea. This, I think, is when my best writing comes out. To be completely thrown off into another idea is inspiring.



That's all I can say, happy reading and hope you like it! :)

Rabu, 19 Juli 2017

Spidyzel (The Friendship between Spiderman and Rapunzel)

Aku menikmati setiap pemandangan hutan yang kulewati dengan telapak kaki telanjang tanpa alas, setelah bertahun-tahun aku berdekam di sebuah kastil tua dan bahkan akupun tak boleh keluar dari ruang kamar. Untung saja, ruangan itu cukup besar. Maka dari itu aku betah walaupun ingin rasanya aku keluar dari kastil yang terpencil itu. Namun sekarang, aku bebas pergi keluar dan merasakan betapa indahnya alam ini dengan hati yang gembira. Sepanjang perjalanan, aku hanya menari, berloncat-loncat riang layaknya anak kecil, dan tak lupa burung-burung itu berkicau menemani dan mengiringiku bernyanyi.

Ada uniknya juga di hutan ini, terdapat sebuah restoran namun sederhana. Mungkin disediakan untuk pengembara yang tersesat atau para petualang yang membutuhkan makanan untuk sepanjang perjalanan lalu dapat mampir ke restoran untuk beristirahat sejenak. Aku sudah hampir setengah perjalanan berada di hutan ini. Karena lelah, aku memutuskan untuk duduk dan merebahkan diri di rerumputan. Tapi aku melihat sesuatu yang ganjil disana, di dahan pohon yang letaknya lumayan jauh dari posisiku saat ini. Tak mau membuang-buang waktu, aku berlari menuju pohon itu. Pohon itu sangat tinggi dan besar sehingga jika ada orang yang berdiri diatas sana, aku akan terlihat sangat kecil dan aku tak peduli. Entah, makhluk apa itu. Aku sama sekali tidak pernah melihat makhluk itu sebelumnya. Tubuhnya berkostum merah dengan jaring laba-laba yang menopang tubuh itu yang berposisi bergantung terbalik.

Aku bingung. Aku ingin menghampirinya tetapi aku takut ia jahat. Aku hanya gadis polos dan lugu yang baru pertama kali keluar rumah.
Tetapi karena rasa penasaranku makin kuat, aku memberanikan diri menghampirinya dengan posisi tubuh terbalik mengikuti dirinya. Jika ia bisa bergantung di pohon dengan tubuh terbalik menggunakan jaring laba-laba, aku juga bisa bergantung menggunakan rambutku yang super panjang ini, lagipula rambutku mempunyai kekuatan. Jadi aku tak perlu khawatir jika rambutku rusak. Kuikatkan rambutku di dahan pohon dan, Hap! Posisiku sekarang sudah sama seperti dirinya. Ia yang tadinya tak menyadari kehadiranku, sekarang ia menatapku dengan penuh tanya, sepertinya ia juga tidak tahu makhluk seperti apa diriku karena aku mempunyai panjang rambut yang berbeda dari manusia pada umumnya. Aku tahu ia ingin berbicara, tetapi ia tak tahu harus berkata apa.

"Hai!" Sambutku padanya. Tetapi ia masih menatapku dengan tatapan aneh penuh tanya.

"Hai!" Sapaku sekali lagi. 

"Siapa kamu? Kenapa posisi tubuhmu mengikutiku? Kau penguntit?" Ucapnya dengan tatapan selidik.

"Hahaha, aku bukan penguntit. Aku bahkan hanya seorang gadis biasa yang sedang berjalan-jalan di hutan, namun kebetulan aku menemukan makhluk aneh yang sedang bergelayutan di dahan pohon. Karena aku penasaran, jadi aku menghampirinya." Aku menjelaskannya dengan senang hati.

"Lalu, rambutmu? Kau juga bisa bergelayutan dan berposisi terbalik di dahan pohon." Tukasnya.

"Namaku Rapunzel, aku biasa hidup di kastil yang tinggi dan sepi. Dimana orang-orang tak bisa dengan mudahnya menemukanku. Dan aku sudah terbiasa memanjat tebing atau bahkan rumahku sendiri dengan rambutku ini. Dan aku hanya ingin melihat bintang. Ohya, bisakah kau membawaku ke tempat dimana aku bisa melihat bintang?" Aku bercerita panjang lebar lagi. Kurasa, aku termasuk orang yang nyaman bercerita kepada siapa saja yang menurutku ia ramah.

"Oh, aku adalah Spiderman. Mutasi manusia, juga pahlawan. Aku mempunyai kemampuan kecepatan super, stamina, ketangkasan, dan daya tahan. Kemampuan untuk berpegangan pada banyak permukaan, Kemampuan untuk menembakkan jaring laba-laba dari pergelangan tangan dan panca indera laba-laba."

"Wow, sangat keren. Aku beruntung bisa bertemu denganmu. Aku punya satu permintaan. Apakah kau mau mengiyakannya?" Aku langsung menggebu-gebu ketika tahu ia dapat menembakkan jaring laba-laba dari telapak tangan.

"Apa itu?" Jawabnya dengan tangkas.

"Ambilkan aku sebuah bintang dan aku akan bahagia. Aku berjanji tidak akan pergi meninggalkan rumah asalkan kau bisa mengambilkan bintang untukku."

"Hah? Kau gila! Bintang itu letaknya sangat tinggi, tinggi sekali. Jaringku tak akan mampu untuk menggapainya." Ia menggelengkan kepalanya sambil berdeham.

"Aku paham, aku hanya ingin melihat bintang saja seperti dalam lukisanku." Aku menundukkan kepala tanpa sadar.

"Begini saja, kau kembali kerumah dan berdiam diri disana."

"Kau menyuruhku kembali? Aku susah payah keluar dari tempat itu kau tahu?! Dan kau menyuruhku kembali? Enak saja. Tak akan! Aku ini sedang melarikan diri!"

"Hey, hey, dengar. Aku belum selesai bicara. Kau kembali ke kastilmu itu, lalu setelah ini aku akan mengantarmu pulang dan menemanimu melihat bintang dari jendela kamarmu. Akan ada lampion berbentuk bintang yang melewati kamarmu. Aku akan menemanimu sampai pelepasan lampion itu berakhir."

"Benarkah? Kau tidak bohong? Yay, horee kalau begitu ayo kita pergi. Lagipula, aku sudah pusing bertengger di dahan pohon dengan posisi terbalik." Aku berteriak bahagia kembali.

"Itu karena kamu tak terbiasa berposisi terbalik. Sudahlah, ayo jalan." Ujarnya sambil berdiri.


Selalu ada hal unik jika kita pergi keluar rumah. Beruntungnya, aku bertemu spiderman ini, biarpun ia cuek tetapi mengesankan. Ia menggendongku karena aku lelah. Tak apalah, sekali-sekali Spiderman harus bertingkah manis dengan gadis polos layaknya anak kecil sepertiku.

Kamis, 16 Februari 2017

Remembering Sunday from All Time Low

He woke up from dreaming and put on his shoes
Started making his way past two in the morning
He hasn't been sober for days
 Leaning now into the breeze
Remembering Sunday, he falls to his knees
They had breakfast together
But two eggs don't last
Like the feeling of what he needs
Now this place seems familiar to him
She pulled on his hand with a devilish grin
She led him upstairs, she led him upstairs
Left him dying to get in

Lelaki itu terbangun dari mimpinya semalam, sesekali mengerjapkan matanya karena masih mengantuk. Ia langsung melihat secercah bayangan matahari dari balik gorden itu. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi. Lalu, ia mengenakan sepatunya untuk bersiap-siap pergi menuju suatu tempat. Ia masih terbangun pada pukul 02:00 dini hari, tapi belum juga tersadar akan sesuatu yang membuat jiwanya terpukul.

Masih terbuai dengan hembusan angin yang membuat dirinya nyaman sambil mengenang hari minggu itu, Ia pun jatuh berlutut begitu sampai di depan sebuah cafe. Orang-orang yang kebetulan berlalu-lalang disekitar situ hanya membantunya untuk berdiri dan berkata "Apa dirimu baik-baik saja, Tuan?" Namun yang ditanya hanya mengangguk.

Begini ceritanya, saat itu, ia makan pagi bersama dengan seseorang yang ia anggap spesial di sebuah cafe seberang. Ia memesan dua buah telur, tapi dua telur itu tak akan abadi seperti sebuah perasaan yang kini ia butuhkan.

Kini tempat itu terasa familiar untuknya. Gadis itu menariknya ke lantai atas sambil tersenyum menyeringai, seakan membiarkan lelaki itu masuk untuk makan bersama.

Forgive me, i'm trying to find
My calling, i'm calling at night
I don't mean to bother
But have you seen this girl?
She's been running through my dreams
And it's driving me crazy it seems
I'm going to ask her to marry me

"Maafkan aku, aku hanya sedang berusaha untuk menemukan sesuatu, menunggu sesuatu, yaitu dering telepon tiap malam.
Aku mulai mengetik satu-persatu nomor handphone yang ku punya.
Bukan, bukan maksudku ingin mengganggu mereka yang sudah terlelap. Tapi aku hanya ingin mencari gadis ini, apakah mereka pernah melihatnya? Tolong, ia berlari-lari dan terus merasuki pikiranku. Menari-nari seakan kepalaku ini merupakan panggung kecil untuknya. Padahal ia tak tahu, aku hampir gila karena terus memikirkannya. Dan aku akan memintanya untuk menikah denganku." Gumam lelaki itu dalam hati.

And even though she doesn't believe in love
He's determined to call her bluff
Who could deny these butterflies?
They're filling his gut
Waking the neighbors, unfamiliar faces
He pleads though he tries
But he's only denied
Now he's dying to get inside

Dan meskipun gadisnya tak percaya akan cinta, lelaki itu tetap bertekad untuk merayunya, membujuknya agar ia mau membangun masa depan dengannya. Siapa yang bisa menolak kupu-kupu indah ini untuk tidak berterbangan didalam perutnya karena kebahagiaan sebentar lagi akan dimulai.

Ia memanggil keluar tetangga disekitar rumah si gadis, namun yang terjadi adalah wajah asing yang ia temukan. Lelaki itu kian mencoba, tapi kerap saja ia selalu ditolak. Kini, ia sungguh ingin memasuki rumah gadis itu.

The neighbors said she moved away
Funny how it rained all day
I didn't think much of it then
But it's starting to all make sense
Oh, I can see now that all of these clouds
Are following me in my desperate endeavor
To find my whoever, wherever she may be

"Seorang tetangganya bilang bahwa gadisnya sudah tak tinggal ditempat itu lagi. Sungguh lucu, hujan turun sepanjang hari mengiringi kesedihanku. Mengapa ia tak bilang kepadaku bahwa ia pindah kediaman dan tak tinggal dirumah itu lagi?!
Aku tak banyak memikirkannya, tapi dengan kejadian semua ini mulai masuk akal.
Kini bisa kulihat, bahwa semua awan ini perlahan bergerak mengikuti dalam keputus-asaanku untuk menemukannya, dimanapun ia berada." Lelaki itu duduk bersimpuh, sorot matanya terlihat kosong menatap kedepan.

I'm not coming back (forgive me)
I've done something so terrible
I'm terrified to speak (I'm not calling, I'm not calling)
But you'd expect that from me
I'm mixed up, I'll be blunt, now the rain is just (You're driving me crazy, I'm)
Washing you out of my hair and out of my mind
Keeping an eye on the world
From so many thousands of feet off the ground, I'm over you now
I'm at home in the clouds, and towering over your head

"Maafkan aku yang sebesar-besarnya, aku tak akan datang kembali. Aku telah melalui sesuatu yang mengerikan. Aku takut bicara tapi kau harapkan hal itu dariku. Jujur, perasaanku rasanya seperti campur aduk sekarang, baiklah, aku akan terus terang. Kini hujan menyapumu dari rambutku hingga terjatuh.
Dan disini, dipikiranku, aku terus awasi dunia. Aku berada di ribuan ketinggian dari bumi. Ribuan ketinggian kaki dari dunia nyata, bisakah kau mengejarku? Kini aku ada diatasmu, aku nyaman berada disini, diatas awan, diatas kepalamu." Ujar gadisnya dari atas sana dengan pengakuan.

Well I guess I'll go home now...
I guess I'll go home now...
I guess I'll go home now...
I guess I'll go home

Ternyata gadisnya punya alasan lain. Kini lelaki itu lega mendengar jawabannya. Ia membiarkan gadisnya tenang sekarang, ia tak mau mengganggunya.

"Baiklah kalau itu yang kamu mau, kurasa aku akan kembali kerumah sekarang. 
Kurasa aku akan pulang
Kurasa aku akan pulang..."

~THE END~

Jumat, 18 November 2016

Chit chat Poem

Poem :
I've been stood in front of the mirror,
I thought, how can I loved him? while he never knew my feelings.
I was happy when I was near him, butterflies flying in my stomach.
But, suddenly my stomach was pierced by a knife when I heard he loved another woman and it was not me.
He always treated me like a princess.
He always called me "baby".
He always made me feel comfortable.
He such a gentleman.
And once again, the woman that he loved, it was not me.
Help me, i bleed.
My heart broke into pieces.
Can I talking to the stars then talking to the moon?
I was there that night, waiting for the moon and the stars answered my question.
I waited for a long time.
If he just loved one girl, why he called me "babe"? would he loved me too? didn't he?
I hope, this was jus a nightmare to me.


Duh, duh, duh. galau banget kayaknya. Tenang, gua gak galau kok, puisi ini mengambarkan   seseorang yang perasaan cintanya tak terbalas tapi yang pasti bukan gua. *waduh, ngeri ya hehe*
Gua sengaja bikin puisi disini. Karena, udah lama banget blog ini terabaikan gara-gara sibuk kuliah, maka dari itu spesial buat kalian yang lagi ngerasa galau nih, baca ginian jangan jadi tambah galau ya hehe.

Salam manis, dari penulis ;)

Jumat, 07 Oktober 2016

Memories Never End

*Hanya sebuah cerita sederhana dari seorang gadis pecinta hujan*
*Backsound : Ed Sheeran - All Of The Stars* (bayangin aja ada lagunya haha)

It's just another night and i'm staring at the moon
I saw a shooting star and thought of you
I sang a lullaby by the water side and knew
If you were here, i'd sing to you
You're on the other side as the skyline splits in two
i'm miles away from seeing you
I can see the stars from America
I wonder, do you see them too?

***

Pernahkah kamu berpikir bahwa pada saat kau duduk di bangku SMA, kau ingin sekali merasakan bagaimana indahnya kuliah seperti apa yang di deskripsikan di novel ataupun di sinetron dan di film-film yang kalian lihat. Memang, dunia perkuliahan berbeda jauh dengan masa sekolah. Absen pun mempengaruhimu. Awalnya, ketika aku dinyatakan lulus dan mulai memasuki dunia perkuliahan, aku merasa was-was. Kenapa? Aku takut tak mempunyai teman karena aku sulit berbaur pada saat pertama kali bertemu karena sifatku yang pendiam. Dan aku merasa deg-degan ketika ospek, kakak BEM menyuruh peserta ospek untuk membuat surat cinta. Tak kusangka, surat cintaku terpilih dan aku harus maju ke depan membacakan isi suratku kepada kakak tingkat yang kutuju. OMG! Bayangkan, untuk pertama kalinya aku membacakan isi suratku kepada "doi"! Mungkin wajahku sangat merah padam sepertinya. Hari demi hari pun berlalu. Aku mulai bisa beradaptasi dengan keadaan sekitar. Aku mempunyai teman walaupun hanya dua orang. Beberapa minggu kemudian, datanglah anak baru yang ku kira mahasiswa yang mengulang kelas, tapi ternyata tidak. Ia memang pendatang baru dikelasku. Sampai akhirnya, pertemananku dengan teman sekelas berkembang pesat. Bisa dibilang, aku mempunyai grup yang berisi sebelas orang dengan inisial : Van, Fanay, Din, Kar, Ca, Mol, Ay, Re, Rah, Clod, dan tentunya aku, Gar. Kami bersebelas selalu bersama-sama kemanapun kami berada. Makan, nonton, bersusah-susah mencari bule demi tugas, dan lain sebagainya sampai suatu saat hubungan kami tidak seharmonis dulu. Bukan karena kami bermusuhan. Tidak sama sekali. Mungkin, kami sudah tidak menemukan kecocokan satu sama lain. Sedih rasanya menyadari bahwa tiap saat, aku sudah tidak dengan bersebelas lagi. Tetapi bertujuh. Namun, salah satu dari kami bertujuh memundurkan diri dari perkuliahan. Sisalah kami berenam dengan anggota baru yang berinisial Ra si Koala. Kami :  Gar, Re, Ay, Kar, Clod, dan Ra menghabiskan waktu bersama dengan kegilaan dan ketidak jelasan lelucon kami yang bisa dibilang hanya kita yang tertawa terbahak-bahak sedangkan yang lain tidak. Takoyaki adalah makanan kebangsaan kami berenam. TAKOYAKI. Dengan adanya takoyaki, hubungan kami makin erat, makin gila, makin dahsyat. Lalu saat jam perkuliahan kosong atau tak ada dosen, kami membeli segala macam makanan yang ada. Dimsum, ayam bebek, kremes, bakar, dll termasuk takoyaki. Kami menyebut grup kami dengan beraneka macam. "Takoding, Orkay, Keluarga Kasat Mata." Takoding berasal dari kata Takoyaki karena kami menyukai makanan itu. Dan Koding berasal dari kata koding karena pada saat itu kami sempat belajar koding, Lalu, Orkay, kami menamai grup ini karena hanya untuk candaan. Sebenarnya kita merendah kok hehe. Dan yang terakhir yang masih bertahan sampai sekarang adalah Keluarga Kasat Mata. Mungkin, orang lain menganggap kami kasat mata. Namun, kasat mata disini terlalu berharga karena diisi dengan orang-orang seperti kami hahaha. Aku rindu dimana aku bisa bersenda gurau, bepergian bersama. Terlalu banyak kenangan yang kami ciptakan sehingga aku tak bisa untuk menceritakan semuanya. Aku akan sangat-sangat merindukan moment kebersamaan kita ini kawan. Kami berpencar, berbeda kelas. Kadang aku berpikir untuk kembali ke masa lalu, tapi masa lalu takkan pernah bisa di ulang kembali. Namun, kita hanya bisa mengenang semuanya, di dalam hati. Tetap berjuang kawan, sampai kita bertemu di sebuah gedung yang menandakan bahwa kita disana untuk merayakan keberhasilan kami sebagai mahasiswa dengan gelar wisuda masing-masing, S.s. Aamiinn Ya Rabb.

I have died everyday waiting for you
Darling, don't be afraid i have love you for a thousand years, friend :):):):)
Remember one thing
I WILL ALWAYS LOVE YOU TILL THE END!
*azek*


Bekasi, 10 Oktober 2016

Kalian dapet Salam rindu, untuk Re, Rah, Ay, Kar, Clod, dan Ra.

Dari Gar-Pecinta hujan-Keluarga Kasat Mata.

Sabtu, 03 September 2016

Wonderful Night

Aku masih bisa merasakan aura dirimu yang hadir seperti kemarin. Bahkan tak hanya kemarin, disetiap waktu. Jujur, aku merindukanmu. Aku merindukan saat-saat dimana kau mengajakku keliling dunia untuk menikmati keindahan alam ini. Membuat rencana untuk menguasai dunia dan kita akan bersenang-senang bersama. Aku melihatmu didalam mimpi, mimpi yang membuat kita berpisah untuk sementara waktu, kau berjalan diatas pasir, menenggelamkan kaki tanpa alas, membiarkan angin menyentuh dirimu dan membuatmu merasa tenang. Itulah yang aku suka ketika bermimpi tentangmu.

Aku ingin kembali ke tempat dimana kita memulai semuanya, yaitu dimalam musim panas. Kau tahu, kita sudah benar. ya, aku yakin kita akan kembali ke San Fransisco dalam cahaya yang gemerlap.
Ingatkah ketika akhir pekan saat kita keluar dari kota ini? Mobil melaju santai, aku memelukmu hingga terlelap. Aroma parfume mu yang khas mengingatkanku akan jaket yang kau beri saat itu. Aku belum melupakannya,

Oh hey, aku melupakan sesuatu. Kau pernah mengajakku untuk menonton konsermu disana. Asal kau tahu, aku tak tahu harus berkata apa. Lidah ini kelu. Aku semakin bangga padamu, Calum. Tak hanya Calum, disana juga terdapat Ashton, Luke, dan Michael pastinya. Mereka adalah teman Calum yang ia kenalkan pada saat mengajakku ke San Fransisco.

Rasanya aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu, Cal. Aku rindu. Sangat.

****
Y/n pun menyimpan curhatan yang ia ketik dilaptop. Rasanya aman bila ia menyimpannya disana, lagipula Calum tak akan mengetahui apapun yang y/n tulis karena ia menuliskannya disebuah laptop. Y/n memang tak pernah berkata banyak, tetapi ia mempunyai novel yang terdapat dipikirannya untuk Calum. Ia bisa menuliskan apa saja untuknya. Ia juga berbicara pada Calum bahwa jangan mencintainya karena ia seorang penulis, ia dapat mencintaimu dan menghancurkanmu tergantung imajinasinya. Ia dapat menulis apapun tentang dirimu. Namun, ia sedang merindukanmu, jadi ia tak akan menghancurkanmu.

Ia melangkahkan kaki dan berjalan menuju toko buku terdekat, tempat dimana ia dan Calum sering singgahi, menikmati teh hangat  disore hari sambil membaca buku itu mengasyikkan. Genre buku yang mereka sukai pun berbeda, tapi perbedaan genre bukan suatu masalah, bukan?

Ia menghirup secangkir teh dan meneguknya. Membiarkan kehangatan menjalari kerongkongannya yang kering karena belum minum sedari tadi.

PLUK 

Sebuah tangan menepuk bahu y/n ketika ia sedang meneguk teh. Y/n tak menengok karena ia tak suka membuang waktu nyamannya dengan orang yang tak ia kenal. Mungkin orng itu hanya iseng dan ingin mengerjainya.

"Hey, y/n. Berbalik lah dan lihat siapa yang berdiri dibelakangmu sekarang."

GLEK

Y/n termenung. Ia mengenali suara itu. Apakah itu..? Ah tak mungkin. Bagaimana bisa Calum menghampirinya saat sedang sibuk tour seperti sekarang ini. Ia mengabaikannya lagi.

"Y/n, seorang gadis yang menyukai sore hari sambil membaca buku, meminum teh ditempat ini dan bersantai ria, tempat ini selalu kau kunjungi kan bersama Calum?" Tanya lelaki iu.

DEG

Y/n semakin bingung. Akhirnya ia berbalik badan. Ia seperti mendapat deja vu. Seorang laki-laki yang senang sekali menyebutkan hal yang y/n sukai disaat y/n ragu karena takut salah orang. Ia langsung memeluk lelaki itu dengan erat. Ia sangat merindukannya dan terkejut ketika mendapati seseorang yang ia rindukan telah berdiri dihadapannya dan kini ia ada dipelukannya. Y/n langsung mengajaknya duduk bersama. Calum bercerita bahwa ia meluangkan waktunya hanya untuk bertemu dan menjemputmu kembali ke masa itu, San Fransisco.

Petang mulai datang, y/n membereskan dan mengepakkan pakaiannya ke koper. Ia bersiap-siap pergi bersama Calum. Deja vu, rasa itu terulang lagi. Ia merasakan hal yang tak bisa dirasakan. Ia tak mampu berkata-kata. Ia sangat merindukan Calum saat mereka jarang bertemu, bahkan untuk mengabari saja Calum tak sempat. Saat drama mulai datang, sedih memang disaat kau mencintai seseorang, orang itu sedang berkencan dengan gadis lain yang bukan dirimu. Calum bilang ia hanya berteman, tak lebih. Sampai kau hampir cutting karena kau sudah lelah dengan drama yang ada. Kau sempat tak mempercayai Calum, tapi ia bisa meyakinkan dan mencegahmu untuk cutting. Menyebalkan, bukan?

Ia cepat-cepat mengeyahkan pikiran itu, ia tak mau menghancurkan malam ini. Calum ada dihadapannya dan menjemputnya sekarang. Itu berarti Calum masih memilihnya dibanding gadis itu.
Mereka pergi dengan menggunakan mobil, perjalanan yang luar biasa. kau membuka jendela dan menengadahkan kepala ke arah luar, jalanan kosong. Jadi kau tak perlu khawatir akan tersambar kendaraan lain. angin sepoi-sepoi memainkan rambutmu yang terurai.

Delapan jam kemudian, mereka sampai di Fransisco. tak butuh berhari-hari untuk sampai kesana, tapi cukup lelah untuk terus duduk tanpa beristirahat sekalipun. Calum sudah menyediakan kamar sendiri untuk y/n. Mereka beristirahat sebentar. Sedangkan Ashton, Luke, dan Michael sudah bersiap-siap menyiapkan konser untuk nanti malam. Ketika kau keasyikan tidur sampai sore, kau akan merasa hari sangat cepat, padahal kau hanya tertidur dan itu akan mmbuat waku terasa cepat.

Sore pun datang, mentari mulai tenggelam di ufuk barat, cahayanya menyelinap lewat jendela kamar. Ia segera pergi ketempat mereka konser bersama Calum. Tempat itu sangatlah padat dan ramai. para fans sudah mengantri sejak siang tadi untuk menunggu arena konser dibuka. Calum dan ketiga temannya memasuki arena lebih dulu untuk pembukaan. Para fans bersorak ria, termasuk aku, y/n. Aku sangat terkesima melihat penampilannya, tak tahu mengapa aku sama sekali tak bisa berpaling memandanginya, kebetulan aku duduk diposisi paling depan, sehingga ia juga bisa melihatku dengan jelas. Pembukaan konser diawali dengan lagu kenangan kami, yaitu San Fransisco. kebetulan Calum yang mengawali lagunya dan menyanyikannya dengan merdu tanpa bass kesayangannya. mereka menyanyikannya dengan akustik. Hanya Michael yang memegang gitar dan mengiringi mereka bernyanyi. Sungguh malam yang indah yang pernah kulewati, walaupun sebelumnya aku sering mengunjungi konser mereka, tapi kali ini sungguh istimewa.

~ THE END~

Bayangkan kau ada disana dan melihat mereka dengan jelas hihi :D 
For video, cr : oa 5sos, youtube. 







Jumat, 29 Juli 2016

One

"Sweetheart, buka pintunya. Aku tahu kau di dalam. Kau belum makan siang, sejak pagi kau mengurung diri dikamar. Bukalah pintunya." Desak Ashton yang sedari tadi bolak-balik mengetuk pintu kamarku dan mengganggu waktu kesendirianku. Buat apa ia kesini? Mengganggu saja. Lagipula aku tak membutuhkan teman untuk saat ini. Pasti ibu yang menyuruhnya menggedor-gedor pintu kamarku. ARGH!! Kau tahu? Itu adalah hal yang paling kubenci disaat aku sedang ingin sendiri, tetapi orang lain mengganggumu, sial. Ia tak tahu alasanku mengurung diri karena apa. Kalaupun aku bercerita padanya, ia juga tak akan tahu rasanya bagaimana.

"Diam, Ash! Kubilang diam! Sebaiknya kau pulang, itu akan lebih baik dan aku akan baik-baik saja." Bentakku padanya. Aku tahu, seharusnya aku tak membentaknya karena ia tak ada masalah denganku. Tapi aku benci dengan temannya dan lebih tepatnya aku benci pada sahabat dekatnya.

Selang beberapa menit, Ashton tak menjawab. Kemudian, ia menjawab lagi, "Oke y/n. Aku akan menunggumu keluar kamar sampai kau menyentuh makananmu!"

Huh, keras kepala sekali orang itu. memangnya ia tak mendengar perkataanku tadi? Aku benar-benar ingin sendiri. Benar-benar sendiri. Aku masih terlalu marah terlebih lagi kecewa pada saat kulihat layar handphone ku dan membuka Line. Sontak kulempar handphone sampai retak layarnya. Gila memang. Handphone ku lebih berharga daripada dia, tetapi aku malah membanting handphoneku sendiri. Harusnya aku membanting dia, bukan handphoneku.

"Oke-oke, aku keluar, puas?" Kurapihkan rambutku dan menguncirnya. Membersihkan muka seperti biasa sampai terlihat segar walaupun kantung mata masih terlihat jelas dimataku. Aku melihat Ashton sedang merapihkan meja makan.

"Ashton? Kau masih disini? Tanyaku sambil mengucek mata. Ia hanya menjawab bahwa ia akan menungguku sampai aku keluar kamar dan kemudian tersenyum. Baik sekali orang ini. Kemudian ia menyuruhku untuk makan. Ia terlihat seperti seorang kakak dimataku. Ia sangat peduli padaku. Padahal Luke, kakakku tidak memperlakukanku se-spesial ini. Luke lebih jahil dan menyebalkan. Jarang membelikanku mainan, jarang membuat lelucon, sedangkan Ashton berulang kali membelikanku mainan yang lucu agar aku tak kesepian, leluconnya pun kerap membuatku tertawa. Sebenarnya kakakku ini Luke atau Ashton? Mengapa Ashton sangat peduli padaku seperti seorang kakak kepada adiknya? Entahlah, mungkin karena aku adik dari Luke-teman satu bandnya dan ia kenal baik dengan Luke, maka dari itu ia menganggapku seperti adik kesayangannya. Dan lihat saja, bahkan saat kondisiku seperti ini, Ashton yang menghiburku, bukan Luke. Kakak macam apa Luke itu.

Aku menghabiskan makananku. Kenyang sekali rasanya, perutku seakan mau meledak. Kau tahu? Porsi makanku sangat banyak tetapi aku tak bisa gendut. Tak tahu mengapa, padahal aku ingin merasa gemuk karena aku terlalu kurus. Menyebalkan bukan? Disaat para gadis ingin kurus, aku ingin gemuk. Hhh...

"Terimakasih Ashton, aku sangat kenyang hahaha." Tawa lebar menghiasi wajahku dan aku yakin wajahku belepotan makanan.

"Sama-sama sweety, aku sangat senang kau sudah tak sedih  dan aku yakin, hanya makanan yang membuatmu lupa akan kesedihanmu." Ujarnya membuatku tersenyum-senyum sendiri.

"Jangan memanggilku sweety atau sweetheart, Ash. Kalau Luke tahu ia akan mengamuk mungkin."

"Ia tak akan mengamuk, karena ia membiarkanku untuk mendekati adiknya hahaha."

"Kau terlalu pede, Ash. Pede mu besar sekali, wow."

"Yang penting aku bisa melihat tawa lebarmu y/n, aku tak tahan melihatmu seperti tadi. Berantakan tak karuan seperti tak pernah diurusi. Aku jadi bertanya dimana sisi cantikmu? Y/n sedikit lebih jelek hari ini."

"Aku memang jelek, Ash. Siapa bilang aku cantik? Nia lebih cantik dariku." OMG, apa yang barusan aku katakan? Aku menyebut nama Nia. Tak bisa dibiarkan. Ashton kenal dengan Nia. Pasti ia akan bertanya-tanya setelah ini.

"Hey, Nia katamu? Kau lebih menggemaskan dibanding Nia. Aku lebih memilihmu." Ashton terlihat berusaha menghiburku begitu aku tak sengaja menyebut nama Nia.

"Sudahlah, Ash. Sebaiknya kau kembali ke studio bandmu. Luke, Cal dan Mike mungkin sudah menunggu lama disana. Tak usah banyak cakap denganku. Aku tak apa." Aku kembali memurungkan wajah.

"Dengar y/n. Seburuk apapun kau, sejelek apapun kau itu tak masalah. Fisik akan kalah oleh kecantikan hati. Dan hatimu cantik, kau cantik sebenarnya."

"Aku lelah berbicara denganmu. Kau orang ke-empat yang menyebutku cantik setelah Luke, ibu, dan ayah. Sudahlah, sana kembali. Jangan mencoba membuatku bahagia, Ash. Mood ku sedang hancur hari ini."

"Baiklah kalau itu yang kau mau, aku akan pergi. Tapi jangan lupakan makan dan jangan terlalu larut dalam kesedihan ya, aku tak suka itu."

"Iyaa, Ashton. Lebih baik kau yang menjadi kakakku dibanding Luke deh. Terimakasih hari ini."

Ashton melambaikan tangan dan mulai melaju pelan dengan motornya. Aku tak tahu apa yang ia maksud. Ia sangat baik, perhatian dan peduli padaku. Sedangkan Luke? Ia sibuk dengan bandnya, sibuk berkencan dengan Arzaylea kekasihnya, dll. Memang, Luke adalah Lead Vocal di 5sos. Tapi seharusnya ia ingat akan diriku, adiknya karena aku juga tak terlalu menyukai kekasihnya. Dan hari ini semua kekesalanku terbayar oleh hadirnya Ashton.

Ashton memarkir motornya di lahan parkiran studio. Cukup luas dengan dinding penuh ukiran gambar yang berdasarkan cover untuk lagu mereka seperti Castaway, Permanent Vacation, Waste The Night, dll. Alunan musik sudah berdentum dan terdengar pelan dari luar. Tanda bahwa ketiga temannya sudah latihan sedari tadi, bermain akustik tanpa drum dan gitar elektrik. Hanya mengandalkan gitar akustik. Ia disambut oleh ketiga temannya dengan berjabat tangan. Luke sudah mengira bahwa Ashton telat karena mampir kerumah Luke untuk menghibur adiknya. Itu sudah menjadi kebiasaan bagi Luke menyuruh Ashton, dan ia tak keberatan jika Ashton menemani adiknya seharian karena Luke terlalu sibuk.

"Hey bro, gimana sama y/n? Dia baik-baik aja?" Tanya Luke langsung.

"Seperti yang lo bilang, dia baik-baik aja Luke."

"Baguslah, gue ngerasa bersalah sebenernya. Gue kakaknya, gue ditugasin nyokap buat jaga y/n, tapi malah elo yang gantiin tugas itu."

"Gapapa Luke, lagian gue ikhlas kok. Ya itung-itung gue bisa deketin adik lo lah haha."

"Yee, modus lo. Untung temen, coba kalo bukan."

"Kenapa kalo bukan? Mau tonjok? Tonjok aja sini."

"Hahaha, nggaklah. Ashton kan temen gue paling the best. Cuma lo yang bisa hibur y/n, Ash." Luke memukul canda pundak Ashton sambil tertawa. Ashton senang mendengarnya.

Calum dan Mike sdari tadi hanya fokus memainkan kunci gitar dan bass mereka.Tak peduli Luke dan Ashton membicarakan apa, yang penting tugas Calum dan Mike selesai untuk mencari nada pada lagu baru mereka yang akan datang. Luke yang menulis lagu, sedangkan Ashton mencari not balok lagu.

Hari ini cukup lelah bagi mereka karena sibuk mencari not balok, mencari nada iringan lagu, menulis lagu sambil mencari ide bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan kreatifitas untuk menyelesaikan itu semua. Mereka kembali kerumah saat petang mulai datang. Luke langsung merebahkan diri ketika sampai dirumah. Tak lupa, ia menyempatkan waktu berdua untuk berbicara dengan y/n.

Luke mengetuk pintu kamar y/n dengan pelan. Ia tahu y/n sudah tertidur karena ini sudah jam dua belas malam. Tapi ia harus berbicara pada y/n saat itu juga.

"Y/n, bangunlah. Aku ingin bicara denganmu." Luke berbicara sambil mengetuk pelan supaya tak mengganggu orang dirumah.

"Y/n, aku sangat perlu bicara. Aku tahu kau dengar y/n. Bukakan pintunya." Luke berkata lagi. Y/n pun membuka pintu beberapa menit kemudian.

"Ada apa Luke? Ini sudah larut malam kau tahu. Aku sangat mengantuk. Lebih baik besok saja bicaranya." Y/n kembali menutup pintu tetapi Luke menahannya.

"Tunggu y/n, aku sangat perlu bicara. Please, dengarkan aku sekali saja." Luke memohon, y/n hanya mengangguk. Ia hampir jatuh karena masih setengah sadar. Untung saja Luke menahannya.

"Baiklah, apa yang ingin kau katakan? Cepat. Aku ingin tidur."

"Kau tiduran saja, biar aku duduk disampingmu, menemanimu sampai kau terlelap. Anggap saja aku sedang mendongengkanmu sebuah cerita seperti dulu."

"Ya sudah, Kau ingin bertanya apa?" Tanya y/n sambil menguap.

"Apa kau menyukai Ashton?"

"Haha, kau gila. Aku menganggap Ashton sudah seperti kakak sendiri. Ia lebih perhatian padaku dibanding dirimu, Luke." Y/n berbicara seperti menyindir Luke.

"Maaf y/n-" Belum sempat Luke berbicara, y/n tengah memotongnya.

"Halah, sudah cukup Luke. Kau terlalu sibuk. Sebenarnya kakakku itu adalah Ashton atau kau? Kau membiarkan Ashton merawatku sedangkan kau malah sibuk dengan yang lain. Lalu kau anggap aku ini apa? Kau seperti menganggapku orang asing yang bukan adikmu." Y/n berbicara agak keras.

"Sstt, y/n. Jangan bicara keras-keras."

"Mengapa? Kau takut ayah dan ibu tahu bahwa yang selama ini anak pertamanya tak pernah berbicara denganku, tak pernah memperhatikanku dan sekarang kau baru mempertanyakan hal ini padaku dengan basa-basi apakah aku menyukai Ashton. Ya, kalau begini caranya mungkin aku akan menyukainya karena ia jauh lebih baik dari kau, dan kelihatannya ia tulus."

"Aku sangat meminta maaf y/n. Maaf karena aku tak pernah ada disaat kau membutuhkanku. Maaf karena aku lebih mementingkan karir dan juga Arzay. Maaf sebesar-besarnya." Celoteh Luke penuh penyesalan.

"Cuma itu? Lalu bagaimana dengan temanmu itu yang bernama Calum?"

Luke langsung terbelalak ketika y/n menyebut nama Calum.

"Maksudmu? Kenapa dengan Calum?" Luke bertanya seolah ia mengetahyu y/n punya rahasia besar dibalik semua ini.

"Luke, sebenarnya aku tak mau membicarakan hal ini karena hatiku masih sakit. Rasanya aku ingin vakum dari line atau instagram. Aku-" Y/n mulai berkaca-kaca.

"Bicaralah dengan pelan y/n. Aku akan mendengarkan." Luke dengan bijak merangkulku dengan hangat.

"Aku menyukai Calum. Sudah lama ku menyukainya. Aku menyimpan perasaan ini sendirian. Aku tak bicara kepada orang lain karena aku tahu mereka akan menganggapku lebay, mimpiku terlalu tinggi. Tapi apa kau menyadari Luke? Tatapanku pada Calum sangatlah berbeda. Aku menatapmu, Ashton, dan Michael itu adalah tatapan biasa. Tetapi, untuk Calum itu berbeda. Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Apa yang harus kulakukan ketika aku melihat Calum berdua dengan gadis itu? Mereka terlihat bahagia saat bersama, apa ia tahu ada hati yang terluka? Aku mencintainya Luke. Melihatnya tertawa bersama gadis lain itu terlalu menyakitkan untukku. Apa cinta harus sesakit ini? Apa aku salah jika menyimpan perasaan terhadapnya? Apa aku salah jika menganggapnya seperti laki-laki yang berada di satu lingkungan denganku dan berharap kita akan mengenal satu sama lain? Apa sedikitpun tak ada celah dihatinya untukku? Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi miliknya, mungkin. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, dari jarak hati berjuta-juta meter aku tersenyum untuknya. If happy is her, i'm happy for you Cal. 😢"

Y/n menangis dipelukan Luke. Luke baru menyadari ternyata selama ini y/n, adiknya sendiri menyukai Calum, sahabatnya. Luke juga tak menyangka perasaan y/n begitu dalam unuk Calum. Ia tahu mengapa seharian ini y/n mengurung diri dikamar. Calum sama sekali tak tahu akan hal ini karena ia tak sadar akan perasaan y/n. Lagipula, Calum sudah mempunyai calon tunangan.

"Y/n, apa yang membuatmu begitu mencintai Calum? Boleh aku tahu?" Ujar Luke.

"Kalau kau minta aku menjawab, baiklah. Sebenarnya cinta tak butuh alasan. Aku menyukainya ketika aku menonton video music bandmu yang berjudul Amnesia. Sejak saat itu aku jatuh cinta padanya, tawanya yang begitu khas. Diantara pria berambut blonde, hanya dia yang berhasil mencuri perhatianku."

"Jadi, kau lebih perhatian pada Calum dibanding denganku?"

"Kau itu kakakku. Mana mungkin aku menyukaimu." Gelak y/n.

"Kakakmu kan tak kalah ganteng dengan Calum. Kau boleh menyukaiku kok." Ujar Luke sambil tertawa.

"Luke, kau ini. pergi sana dari kamarku." Y/n memukul Luke sembari bercanda dan memukulnya dengan bantal.

"Tenang y/n, kau tak perlu khawatir. Jika Calum menyakitimu, aku akan maju demi adikku tercinta. Lagipula, aku akan memberitahu Calum akan hal ini."

"Jangan Luke. Ini rahasia kita. aku tak mau Calum mencintaiku dengan rasa kasihan sementara katamu dia punya calon tunangan? Lebih baik sudahi saja semua ini. Bye, aku mau tidur." Y/n menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Luke hanya tersenyum melihat tingkah adiknya. Setidaknya, Luke sudah berhasil mengambil hati adiknya kembali seperti Ashton peduli kepada y/n.

"Good night, y/n. Semoga kau memimpikan Ashton malam ini." Sela Luke pelan ketika ia beranjak menutup pintu kamar y/n.
~The End~


BHAHAHAH gimana sama imaginenya? Lebay ya? HAHAHA *ketawa lebar* *yang penting hepi*
#malamsabtubaperbersamaemsw #malamsabtubersama5sos

Ada lagu dikit nih, pas banget buat Calum liriknya : 

He takes your hand
I die a little
I watch your eyes
And I'm in riddles
Why can't you look at me like that?

When you walk by
I try to say it
But then I freeze
And never do it
My tongue gets tied
The words get trapped

I hear the beat of my heart getting louder
Whenever I'm near you

But I see you with him
Slow dancing
Tearing me apart
'Cause you don't see
Whenever you kiss him
I'm breaking,

Oh how I wish that was me

(One Direction - I Wish)

Jumat, 22 Juli 2016

The Story Of Us

Backsound :
Bring Me The Horizon - Drown
5SOS -Everything I Didn't Say
Taylor Swift - Teardrops On My Guitar

****
It comes in waves, I close my eyes
Hold my breath and let it bury me
I'm not OK and it's not all right
Won't you drag the lake and bring me home again

Aku tak mengerti apa yang kurasa. Seperti terkena kutukan, ia berharap aku jatuh dalam kegelapan, kesendirian, dan tak ada orang disini. Perlahan lubang yang terdapat di jiwaku kian mendalam dan aku tak tahan lagi dengan keheningan ini, dengan kekosongan ini, dengan keadaan ini. Kesendirian ini sungguh menghantuiku dan beban kian menumpuk sehingga aku tak tahu harus berbuat apa.

Cutting merupakan kebiasaanku jika frustasi mulai datang. Aku terbiasa memasuki rumah sakit, lagi dan lagi. Orang tuaku hanya menangis jika aku melakukannya. Mereka tak bisa menghentikanku karena ia tak tahu bagaimana jadi diriku yang lelah ini. Aku mempunyai teman, bisa dihitung pakai jari. Aku tak mempunyai banyak teman karena keanehanku. Entah, aku ini tak terlihat. Jadi wajar saja jika aku begini. Frustasi, depresi.

****

"Y/n, stop! Stop menyakiti dirimu! Kau gila! Apa yang kau pikirkan, huh?! Please dengarkan aku!" Calum berteriak saat tanganku mulai berlumuran darah. Ia terus mengguncang tubuhku agar aku tersadar, tapi percuma. Aku sudah ada dibawah alam sadarku, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Aku ada disana hari itu. Ya, dirumah sakit. Sebenarnya aku benci untuk berada ditempat ini, tapi keadaanku yang semakin menggila yang membawaku kembali kesini. Terbangun dengan infus, beberapa perban di lengan dan kepalaku. Ada Calum disana, disamping ranjang tempat tidurku, terduduk dengan wajah terbenam ke kasur, Tak lama, Luke memasuki kamar bersama Ashton dan Michael. Mereka meneriakiku dengan semangat karena aku sudah siuman. Mereka juga mengguncang tubuh Calum agar terbangun dari tidurnya.

"Calum!" Teriak Luke.

"Hey, Bro. Y/n sudah siuman." Ujar Ashton.

"Calum jelek, Calum gendut, Calum gembul, Calum.." Michael memotong pembicaraannya sembari memukul Calum dengan gemas.

"Stop it, Mike! Tak lucu. Apa yang kalian bicarakan?" Sontak, mata Calum menatap y/n dengan senang. "Y/n?? Kau sudah sadar? Omg syukurlah, aku sangat senang kau siuman y/n." Calum memeluk y/n dengan rindu.

"Tak usah memelukku, Cal." Y/n menepis lengan Calum dengan kasar.

"Y/n? Mengapa? Ada apa denganmu? Mengapa kau seperti orang yang benci sekali terhadapku?" Ujar Calum lemas dihadapan Y/n.

"Asal kau tahu y/n, aku panik ketika kau berusaha untuk self harm atau cutting seperti itu. Aku takut terjadi apa-apa denganmu y/n. Bahkan aku yang membawamu kerumah sakit." Calum melanjutkan pembicaraannya.

"Dengar, aku memang sudah sakit, Cal. Tak usah kasihani aku." Y/n kembali berbaring dan menutupi wajahnya dengan selimut. Ketiga teman Calum ikut terheran-heran dengan sikap y/n.

"Sudahlah, Cal. Mungkin y/n sedang tak mau diganggu. Lebih baik kita keluar sebentar." Michael merangkul pundak Calum.

Lalu Calum menuruti perintah Michael.

****

"Aku tak mengerti mengapa y/n berubah drastis padaku. Kami tak sedang bertengkar, kami tak sedang dalam masalah, lalu mengapa y/n acuh tak acuh padaku? Apa salahku terhadapnya? Apa aku terlalu cuek? Apa aku tak pernah memperhatikannya ketika ia dalam masalah? Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan Nia? Ah aku tak mengerti. Mudah-mudahan ini tak ada sangkut pautnya dengan Nia. Lagipula aku dan Nia hanya sekedar jalan-jalan saat itu." Celetuk Calum dalam hati ketika ia memainkan gitar bassnya untuk konser malam ini. Konser ini adalah pertama kalinya yang mereka adakan di Bridgestone Arena yang berada di wilayah Nashville, TN, US. Calum sangat nervous sebenarnya. Ia sering lupa lirik ketika y/n menonton konser mereka dan berada di posisi paling dekat dengan panggung, itu membuat Calum tak bisa berkutik. Beruntungnya ia hanya lupa lirik dan tak ikut-ikutan lupa akan kuci gitar bassnya.

"Hey Calum. mau minum malam ini?" Tanya Luke dengan semangat. Calum hanya menggelengkan kepala tanda tak menyetujuinya.

"Mengapa Cal? Biasanya kau tertarik." Luke bertanya lagi.

"Tidak untuk malam ini, Luke. Aku pusing memikirkan y/n."

"Tak usah ambil pusing. Sudah ada Nia kan sekarang?"

"Jangan berbicara tentangnya atau kau akan kutendang dari sini. Aku sedang ingin latihan dengan bass ku, Luke."

"Okay, tenang bos. Aku akan pergi."


****

Y/n sedari tadi berdiri memandang Calum tanpa kedip, seakan ia sudah jatuh cinta dengan pesona yang dibuat oleh Calum. Ia tak pernah membuat dirinya disukai orang lain dan mereka akan terpesona padanya, tak pernah. Calum hanya memiliki tawa dan senyuman yang khas yang tak dimiliki siapapun. Bahkan ia terlihat sangat hot ketika ia merokok. ( he's so tall and handsome as hell, he's so bad but he does it so well) Jadi, itu sebabnya mengapa banyak para wanita mendambakannya walaupun Luke, Ashton, dan Michael juga tak kalah tampannya dengan Calum.

Sesaat Calum mendapati y/n tengah menatapnya. Y/n langsung cepat berpaling walaupun ia masih kesal dengannya.

"Y/n? Mengapa setiap aku menatapmu, kau tak pernah membalas tatapanku? Sedangkan aku tak apa jika kau menatapku tanpa sepengetahuanku y/n."

Y/n terdiam.

"Mengapa kau diam y/n?"

"Apa itu membutuhkan suatu jawaban Calum? Apa kau menginginkan sekali aku menjawab pertanyaanmu? Kurasa tak perlu."

"Mengapa y/n?"

"Karena aku membencimu."

Keduanya terdiam. Keheningan merasuki ruangan dan diri mereka. Satupun tak ada yang berani berbicara.

"Ya sudah kalau itu mau mu, aku rela, y/n." Calum kembali menunduk. Y/n berlari sekencang-kencangnya. Menyesali mengapa ia berkata begitu pada Calum.

****

Konser pun dimulai, ribuan bahkan jutaan penonton berteriak histeris saat mereka memainkan intro dari lagu Everything I Didn't Say.


Wait, don't tell me
Heaven is a place on earth
I wish I could rewind all the times that I didn't
Show you what you're really worth
The way that you held me
I wish that I'd put you first
I was wrong I admit, numb from your kiss
While you were slipping through my fingertips

Taking every breath away
With all of the mistakes I've made
From all the letters that I've saved
This is everything I didn't say
I wish I could've made you stay
And I'm the only one to blame
I know that it's a little too late

This is everything I didn't say

Alunan lagu diawali oleh Calum bersama gitar bassnya kemudian diikuti Luke dan Michael di part selanjutnya. Mereka membawakannya dengan hikmat. Seandainya y/n ada disana dan bukan Nia yang menggantikan posisi y/n saat mereka konser. Tak lupa, Arzaylea juga ikut dalam konser mereka. Tapi Nia tak bertegur sapa dengan Arzaylea. mungkin mereka tak mengenali satu sama lain. Lagi dan lagi, Calum lupa lirik ditengah alunan musik yang bergeming, ia tetap melanjutkannya walaupun ia bernyanyi "nananana" dengan ria.

Luke bahagia karena Arzay menontonnya, sedangkan tidak dengan Calum.

****

Kondisi y/n sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia berada di luar cafe sambil meneguk secangkir kopi hangat melihat-lihat mobil yang melaju kencang dipinggir jalan. Ia juga sempat mengabari Calum bahwa ia sudah stabil dan menegur Calum dengan sebaik mungkin agar menjaga pertemanan mereka. Ia tak mau calum tersinggung untuk kesekian kalinya. Y/n hanya berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya dan memulai pertemanan lagi. 

Pada hari itu, Calum bercerita tentang Nia kepada y/n. Calum memandang y/n tetapi y/n memasang senyum palsu dihadapannya. Dan Calum tak menyadari itu. Y/n berani bertaruh, Nia pasti sangat cantik sehingga membuat Calum terpikat. Nia pasti punya segalanya yang tak y/n miliki. Calum berbicara pada y/n. Ia tertawa karena Calum lucu sekali. Namun y/n tak melihat orang lain saat Calum disisinya. Calum bilang, dia mabuk kepayang karena Nia dan akhirnya ia menyadarinya. Apakah Calum tahu apa yang y/n pikirkan tiap malam? Bahkan y/n pernah menelpon Calum hanya sekedar menyanyikan Teardrops On My Guitar dari Taylor Swift. Calum hanya bertanya siapa lelaki yang kau sukai? Luke, Mike atau Ashton? Tanya Calum sambil tertawa. Y/n hanya tersenyum dan menjawab, "Dia tak akan pernah menyadarinya, Cal. So, how can i try to be better? Nobody ever lets me in, i can still see you. This ain't the best view. On the outside looking in." 

Hari silih berganti, Luke menyadarkan Calum bahwa lelaki yang y/n sukai adalah Calum. Tapi terlambat, y/n sudah tak tertarik untuk menyukainya. Itu mengapa Calum resah disetiap konser karena tak ada y/n disana melainkan Nia.

Calum menyalakan mesin mobil dan melaju kencang ke arah rumah y/n bersama ketiga temannya. Ia tak peduli apa yang akan terjadi, yang i pikirkan hanyalah berbicara dengan y/n.

Tiga puluh menit kemudian mereka tiba dirumah y/n. Calum mengetuk pintu rumah y/n dengan gugup. Tak tahu apa yang akan ia bicarakan. Y/n membuka pintu beberapa saat dan ia terbelalak ketika ia mendapati Calum berdiri dihadapannya.

"Mau apa kau kesini?" Kata y/n.

"Aku ingin memperbaiki sesuatu." Dengan gugup Calum bicara.

"Aku tak perlu memperbaiki sesuatu itu Cal. Menurutku semuanya sudah beres."

"Tidak y/n, kita harus memperbaiki semua ini."

"Lantas apa yang ingin diperbaiki, Cal."

"Hubungan kita."

"Aku tak punya hubungan denganmu!" Y/n mendorong bahu Calum. Ashton menahan y/n untuk tak emosi.

"Lepas Ash, aku baik-baik saja." Y/n lanjut bicara. Ashton akhirnya melepaskan lengan y/n.

"Calum, aku tahu maksudmu. Kau kesini hanya untuk meminta maaf dan berharap aku akan menyukaimu lagi setelah kau berkencan dengan Nia? Aku tahu apa yang kau pikirkan, Cal. Aku ini hanya sahabatmu, tak lebih dari itu."

"Kau lebih dari itu, y/n. Aku menyadari bahwa kau lebih baik dari Nia setelah apa yang ku dapat ketika aku tak bersamamu y/n."

"Haha, bohong sekali kau. Sangat pintar untuk mempercayai kebohonganmu."

"Y/n, please. Berikan kesempatan sekali lagi untukku. Untuk kita, untuk kami."

"Aku tak marah dengan Luke, Ash, dan Mike. Aku juga tak marah padamu, aku jujur. Dan sebaiknya kau kembali pada Nia."

"Bagaimana jika aku menolak permintaanmu untuk kembali pada Nia dan kemudian aku kembali padamu?"

"Aku tak akan membiarkan kau kembali padaku. Kembalilah pada Nia, Nia lebih membutuhkan kau daripada aku. Aku tak cocok untuk bintang besar sepertimu, Cal. Walaupun aku bahagia tiap kali melihatmu, tapi aku bukanlah siapa-siapa dibanding Nia." Y/n mulai berkaca-kaca.

"Aku tak mau kau menangis."

"Aku tak akan menangis bila kau kembali pada Nia. Ku akui itu. Cinta tak harus memiliki Cal. Mungkin aku memang mencintaimu dan kau memilih Nia, itu lebih baik kedengarannya."

"Maafkan aku, y/n. Aku menyayangimu, sungguh. Aku menyesal y/n."

"Jangan kau sesali semua ini, semua akan berjalan lebih baik. Kau dan aku akan baik-baik saja." 

"Ya sudah kalau begitu kau denganku saja ya, y/n." Ujar Mike sambil mengedipkan mata.

"Haha, lebih baik aku dengan Alex Gaskarth saja Mike hahaha." Celetuk y/n sambil bercanda, Mike hanya menggelembungkan pipinya biar terlihat lucu. "Frustasi ku sudah tak ada artinya lagi, kau berhak bahagia bersama Nia, Cal. 

~THE END~


Rabu, 13 Juli 2016

Bintang Terindah

Teruntuk Calum Hood, bassist favoritku di 5 Seconds Of Summer.

Hai, Calum.

Mungkin kau tak akan pernah tahu bahwa ada seseorang yang amat begitu mencintaimu.
Ia menganggap bahwa kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tertawa tanpa sebab padahal kau berada sangat jauh berjuta-juta sekian meter darinya. Bahkan kau pun tak tahu bahwa ia ada di dunia ini. Tapi, bagaimana bisa ia mencintai orang yang belum pernah ditemui secara langsung dalam kehidupannya? Ya, itulah cinta. Ia mencintaimu dalam diam. Ia bahagia mencintaimu walaupun kau sama sekali tak mengenalnyal. Asal kau tahu, ia sangat menyayangimu, Cal. Ia terlihat panik disaat kau memposting status gundahmu di akun twitter. Mungkin terkadang kau merasa bahwa kau sendirian, beberapa fans menghiraukanmu dan kau merasa tak terlihat oleh mereka. Tapi kau tak sendiri, kadang ia juga merasa seperti itu. Ia tahu bagaimana rasanya dijauhi, ia tahu bagaimana rasanya memendam sejuta perasaan yang telah lama ingin ia ungkapkan tetapi terbungkam dan akhirnya tak terucap. Kau tahu rasanya, Cal? Sakit sekali.
Tetapi itu semua telah terbayar ketika ia melihatmu tersenyum dan bertingkah lucu di video keek atau beberapa video lainnya yang kau unggah bersama ketiga temanmu di youtube. Ia tahu ia bukan siapa-siapa dan ia hanya the girl in a crowded place. Ia juga selalu mengirim direct message lewat twitter atau instagramnya. Namun tak pernah ada notif balasan darimu. Ia memang tak butuh sebuah balasan, karena ia tau kau adalah bintang besar. Bintang yang sulit digapai. Namun ia tak menyesal telah jatuh cinta kepada bintang itu. Mengapa? Karena bintang yang satu ini sangat berbeda. Ia lucu dan menggemaskan. Di lain waktu, ia bisa berubah menjadi sangat tampan dan cool. Kau tahu siapakah "ia" yang kumaksud? "ia" itu adalah gadis yang selalu menunggumu dan itu adalah aku.

Calum tercinta, tertanda.

-emsw-

****

BHAHAHAHAH *SURAT MACAM APA INI 😂*
Ya, sebenernya gue udah pernah bikin surat buat Calum dan udah gue kirim lewat direct message twitter dan instagram. Tapi, yaa gitudeh.. maklumlah dia bintang besar mana mungkin bales direct message dari gue, hiks hiks. *It's okay to cry now 😢*
Tapi guys, surat kali ini atas dasar karena gue iseng malem-malem gatau harus ngapain. Sekali-kali bikin ginian lah ya hahahah
Makasih waktunya udah baca surat tak berfaedah ini 😄



Kamis, 16 Juni 2016

Stuck In The Moment

Hi guys, kembali lagi dengan saya malam ini. Kali ini saya bikin cerpen bukan tentang 5sos nih. Tetapi kali ini cerpennya merupakan request dari teman saya tentang masa lalunya hahaha.
Semoga suka ya , bonne nuit :)


******

"Kring.. Kring.. Kring."

Alarm berbunyi menunjukan pukul 07:30 pagi. Ia tak tahu aku masih bergelayut dengan mimpiku mengenai sosok lelaki beberapa tahun silam saat aku menginjakkan kaki di bangku SMP. Seorang lelaki yang membuatku jatuh hati pada pandangan pertama.

Sebenarnya mataku dan jiwaku masih menginginkan untuk tidur dikarenakan diri ini cukup lelah atas kegiatan yang kulakukan kemarin. Tetapi apa daya, mataku malah terbelalak ketika melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul berapa dan diri ini jatuh terjerembab secara spontanitas tanpa izin dariku.Tak banyak cakap, aku langsung menyambar pakaianku untuk berangkat menuju kampus. Aku akan telat hadir hari ini. TELAT OMG!!!

Kunyalakan mesin motorku dengan segera, aku tak mau berlama-lama memanaskan mesin karena aku akan tertinggal satu mata kuliah yang penting sekali bagiku. Kalau orang tuaku mengetahui hal ini, aku pasti sudah habis dimarahi olehnya.

Yap! Ternyata dugaanku benar. Aku tertinggal setengah jam untuk mata kuliah Psikologi Faal. Dosen itu tak membiarkanku masuk untuk mengikuti mata kuliahnya. Yang benar saja, aku sudah telat setengah jam dan aku berpikir dengan mudahnya bahwa aku akan diperbolehkan masuk. Lalu aku kembali keluar kelas dengan rasa bersalah. Kalau saja aku tak memimpikannya dan segera bergegas mandi, mungkin tak akan seperti ini jadinya. Aku menundukkan kepala sejenak. Masih memikirkan bagaimana aku bisa memimpikan laki-laki itu. 

"Sudahlah, tak usah meratapi nasib. Terima saja kenyataannya bahwa kau telat. Kau tidak sendiri, ada aku disini." Seorang pria bertubuh tinggi dengan mengenakan T-shirt biru itu menegurku dari belakang. Ia berbicara padaku sambil mengetik sesuatu di laptopnya 

"Si- siapa kau? Tak usah ikut campur dengan urusanku." Aku membalasnya dengan nada yang ketus.

"Asal kau tahu, aku juga telat. Sama sepertimu. Bolehkah jika aku menemanimu daripada kau terus-menerus meratapi nasibmu yang menyedihkan itu."

"Enak saja. Mudah sekali ia berbicara seperti itu." Ujarku dalam hati.

"Oke, kau boleh menemaniku asal kau bisa diam. Mengerti?"

"Oke, kau boleh ikut aku sekarang."

"Tap- tapi.." Belum ku menyelesaikan omonganku, ia langsung menarik tanganku. Ia memaksaku untuk menaiki motornya lalu kami menuju Mall yang letaknya tak jauh dari kampus kami. Kemudian, kami langsung menuju lantai tiga gedung Mall itu. Ia memasuki ruangan yang bertuliskan XXI pada pintunya. Ia menyuruhku untuk memilih sebuah film. Aku tak menyangka ia mengajakku untuk menonton bersama. Walaupun kami baru saja saling kenal, kurasa pria ini cukup asik. Ia menyuruhku untuk memilih judul film dan aku memilih film yang baru saja rilis hari ini. Film itu berjudul "Angry Birds."

Ia tak menyangkal ketika ku memilih film itu, ia hanya menyuruhku membeli tiket untuk dua orang. Untuk menunggu tayang film tersebut tidak lama, hanya membutuhkan waktu dua puluh menit. Setelah pintu bioskop dibuka, kami memasuki ruang bioskop. Aku banyak tertawa saat menonton. Ia hanya menatapku dengan sedikit aneh tetapi tak apa. Ia belum tahu siapa diriku.

Tetapi aku tak tahu mengapa. Seharusnya aku merasa bahagia menemukan pria seperti itu, namun aku terlalu risih. Ia menjadi sering mengikutiku kemanapun aku pergi. Ia selalu menuntut untuk mengantarku pulang kerumah kalau jam kampus telah usai.. Aku tak mau terus-menerus seperti ini. Maka aku memutuskan hubunganku hanya sebatas itu. Kutemukan raut wajahnya berubah menjadi sedih, ia terus bertanya mengapa aku seperti ini. Aku hanya menjawab bahwa aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak karena ia lebih tua tiga tahun dariku. Dan tak lupa aku berterimakasih kepadanya karena telah ikhlas menghiburku selama beberapa hari sebelumnya.

Hari-hari berikutnya mulai berjalan seperti biasa, tanpanya disampingku. Orang yang membawakan buku-bukuku ketika aku kerepotan membawa buku yang menumpuk kini sudah berjalan jauh dariku. Tapi kami tetap berteman, terkadang aku atau dia memberikan senyum satu sama lain tanda keramahan.

Aku menaiki lift menuju lantai enam kampusku. Tak tahu mengapa, aku ingin sendiri. Setelah pintu lift terbuka, aku menuju roof top kampus untuk menghirup udara segar. Sesosok pria itu terngiang lagi dipikiranku. Teringat ketika ku berulang tahun, ia mengucapkannya lewat voice message. Aku sangat ingat hari itu. Walaupun kami sudah berbeda kampus, ia masih mengingat diriku. Tiga tahun itu terasa seperti kembali lagi. Burung-burung yang berterbangan sambil berkicau seakan menyanyikan sebuah lagu untukku. Aku ingin ia tahu bahwa hatiku masih miliknya. Aku sendiri juga tak mengerti mengapa aku masih menyayanginya padahal tak sedikitpun ia memikirkanku. Tapi aku merasakan hal berbeda akhir-akhir ini. aku seperti masih jatuh dilubang yang sama, yaitu jatuh cinta kepadanya. Walaupun itu tak berakhir indah. 

Sabtu, 11 Juni 2016

Calum Hood (imagine) - The One That Got Away

Hi guys, kali ini aku akan share imagine Calum nih. Cukup sedih sih kalo menurutku, hiks. Ohya, mungkin lebih terasa menyentuh kalo sambil dengerin lagu The One That Got Away dari Katty Perry, atau juga bisa dengerin coveran lagunya dari Boyce Avenue. (Kalo aku sih lebih suka yang versi Boyce Avenue) haha *ehh malah curhat* tapi gapapalah ya curhat dikit. Bhak. Okay, silahkan dibaca guys 😁

*****
Maaf jika aku tak benar-benar serius padamu y/n.
Kupikir, kau sama saja dengan mereka. Mereka yang menyakitiku seenaknya.
Tapi aku salah, ternyata kau berbeda.
Kau adalah orang teraneh yang pernah kutemui dalam hidupku.
Kau memahamiku seperti ibu memahamiku.
Dan, aku mencintaimu y/n. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu.
Kau bilang bahwa kau juga tak akan meninggalkanku. Ku berkata padamu bahwa kau cantik.
Lalu kau mengelak seakan-akan itu tidak benar.
Aku selalu memikirkanmu tiap aku bernyanyi, bermain musik.
Kau berjanji tak akan pernah meninggalkanku.
Aku tak tahu jika kau tak ada disisiku, mungkin aku akan hilang perlahan-lahan ditelan bumi.
Aku tahu kau tak mendengarkanku saat ku menjelaskan panjang lebar kepadamu.
Aku masih ingat saat kali pertama ku melihatmu, saat musim panas usai sepulang sekolah.

"Hey, d-dapatkah aku d-dd-duduk disini di-disamping-mmu? Ak-aku ingin mengenalmu leb-bb-ih dalam." Kuselesai kata-kataku dengan susah payah seperti orang gagap.

"Okay, kau terlihat lucu. Sangat aneh haha. Tapi tak apa." Kau menjawab pertanyaanku dengan sedikit tawa.

Namun, itu tak lagi sama. Hari kian berganti dan malam itu sesuatu terjadi dengan kita. Kau tak mau lagi berjalan denganku, kau bersikap acuh tak acuh padaku. Ku bertanya mengapa, tapi kau hanya diam.
Ingatkah ketika aku berusaha untuk mendapatkanmu dengan susah payah? Karena mendekatimu bukan hal yang mudah.

Untuk pertamakalinya aku menyanyikan lagu didepan seorang gadis.
Kuharap, kau segera bangun dari tidurmu sekarang juga. Aku sangat menanti malam saat itu. Candle light dinner bersamamu akan menjadi moment terpenting dalam hidupku. Tapi takdir berkata lain, kau tak bisa menemaniku saat itu. Pengendara mobil menabrakmu sangat kencang dan ia lepas kendali. Sekali lagi aku berharap, aku ada disana. Jika aku dapat memutar ulang waktu, ini tak akan terjadi bila orang lain mengatakan yang tak benar kepadanya tentang diriku. Ia mengatakan bahwa aku menduakanmu y/n. Tapi itu tak benar. Bagaimana bisa aku menduakan seorang gadis yang benar-benar mencintaiku sementara hanya aku yang ia sayang. Tak ada yang tahu seberapa besar cintaku terhadapmu y/n. Aku telah belajar mencintai darimu.

Aku terjatuh.
Aku sering kali terjatuh saat sedang konser.
Aku tak fokus.
Aku memikirkanmu y/n, dapatkah kau mendengarku?

Saat kau terbangun, aku ingin menjadi orang pertama yang kau lihat.
Tapi, apa itu akan menjadi kenyataan?
Dan aku beruntung, ketika jari tanganmu bergerak y/n. Itu artinya kau siuman. Kita bisa bermain bersama lagi y/n, walaupun tidak dengan jangka waktu yang lama.
Aku disini, untukmu.

In another life, you would be my girl
We'd keep all our promises
Be us against the world

In another life, i would make you stay
So i don't have to say
You were the one that got away
The one that got away

Surat Untuk Cinyo

Surat Untuk Cinyo, Cinyo, kamu datang dengan segala keluguanmu. Aku tak ingat kapan tepatnya kamu menghampiri rumahku. Yang kutahu hanyala...